Konon, Sebelum Kemerdekaan Simbol Merah Putih Sudah Lahir di Gunung Lawu

Gunung Lawu tak hanya indah, tapi juga sakral. Jadi tempat tirakat para presiden, diyakini saksi awal simbol Merah Putih dan pusat spiritual tanah Jawa

chat_bubble_outline 0
Konon simbol Merah dan Putih pertama kali berkibar di puncak Gunung Lawu jauh sebelum kemerdekaan (Foto: ilustrasi/HARIANKOTA)

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Gunung Lawu, yang berdiri kokoh di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, menyimpan lebih dari sekadar keindahan alam. Bagi banyak orang, gunung ini adalah tempat sunyi yang menyimpan sejarah panjang, nilai-nilai budaya, dan perjalanan batin sejumlah tokoh penting Indonesia.

Tak banyak yang tahu bahwa sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, simbol merah dan putih telah dikenal luas dalam tradisi masyarakat Jawa.

Warna merah melambangkan keberanian, sementara putih berarti kesucian. Keduanya kerap digunakan dalam ritual adat, dan dipercaya pertama kali dipadukan secara sakral di kawasan Gunung Lawu.

“Gunung Lawu sudah lama dianggap sebagai tempat yang sakral. Banyak lelaku dilakukan di sana, jauh sebelum era modern,” ujar Polet, pemerhati budaya Jawa dari Karanganyar, saat ditemui pada Minggu (3/8/2025).

Secara geografis, Lawu berada pada titik penting yang menghubungkan empat penjuru mata angin. Menurut Polet, garis lurus antara Gunung Lawu dan Pura Mangkunegaran di Solo menjadi penanda keterkaitan spiritual masa lalu.

Berbeda dari keramaian destinasi pendakian populer, kawasan ini sering dijadikan tempat untuk menyepi atau merenung oleh para tokoh masyarakat. Salah satu titik yang dianggap paling kuat secara energi adalah puncak Hargo Dumilah.

Beberapa presiden Republik Indonesia diketahui pernah datang ke Gunung Lawu, bukan dalam kapasitas resmi, melainkan untuk tujuan pribadi.

Presiden Soekarno, misalnya, disebut pernah bertirakat di kawasan ini. Presiden Soeharto bahkan dimakamkan di lereng barat Lawu, tepatnya di Astana Giribangun, yang dipercaya memiliki keterkaitan spiritual dengan wilayah sekitarnya.

Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, juga dikisahkan pernah naik ke Gunung Lawu melalui jalur khusus dari Blumbang, Tawangmangu, menuju lokasi yang dikenal sebagai Pringgondani. Karena kondisi fisiknya saat itu, Gus Dur ditandu oleh para pengikutnya.

“Bukan untuk melakukan ritual khusus, tapi lebih untuk mencari ketenangan,” jelas Polet.

Presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono, juga beberapa kali dikabarkan menyepi di kawasan Lawu. Meski tak pernah diumumkan secara resmi, sumber yang dekat dengan lingkaran pribadi menyebut bahwa Lawu menjadi salah satu tempat yang beliau kunjungi untuk mencari suasana hening di tengah tekanan pekerjaan negara.

Bagi masyarakat sekitar, Gunung Lawu bukan sekadar tempat pendakian biasa. Ada aturan yang tak tertulis, namun diyakini secara turun-temurun.

“Yang datang ke sini harus dalam kondisi hati yang tenang, niat baik, dan bersikap sopan. Kalau tidak, bisa saja mengalami hal-hal di luar dugaan,” ungkap Polet.

Beberapa pendaki bahkan mengaku tersesat atau gagal mencapai puncak karena melanggar larangan lokal seperti berkata kasar atau meremehkan tempat.

Gunung Lawu tidak hanya menghadirkan lanskap yang indah, tetapi juga menyimpan banyak cerita tentang perjalanan batin, pencarian makna hidup, hingga nilai-nilai simbolik seperti merah putih yang sudah ada sebelum menjadi bendera bangsa.

Bagi sebagian orang, Lawu adalah tempat untuk menyatu dengan alam. Bagi yang lain, gunung ini adalah ruang untuk menata kembali diri di tengah kesunyian.

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya