Misteri Pasar Setan Gunung Lawu, Mengapa Suara Pasar Selalu Terdengar di Tempat yang Sama?

Mengapa legenda Pasar Setan Gunung Lawu tak pernah hilang? Kisah suara pasar tanpa wujud di Pos 5 jalur Candi Cetho diulas dari sudut pandang budaya Jawa yang penuh misteri

chat_bubble_outline 0
Gunung Lawu Terbakar
Gunung Lawu

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Gunung Lawu tak pernah kehabisan cerita. Namun di antara kabut yang menyelimuti lerengnya, ada satu misteri yang hingga kini tak pernah benar-benar menemukan jawaban: mengapa kisah tentang Pasar Setan selalu lahir dari tempat yang sama, lalu bertahan dari generasi ke generasi?

Tak banyak yang mengaku melihat wujudnya. Yang lebih sering diceritakan justru suara-suara yang datang tanpa rupa.

Riuh layaknya pasar tradisional. Terdengar percakapan orang-orang, langkah kaki, hingga suara tawar-menawar di tengah malam. Semuanya terdengar begitu nyata, seolah ada kehidupan lain yang sedang berlangsung di balik gelapnya hutan Gunung Lawu.

Namun saat suara itu dicari, yang tersisa hanya kabut, pepohonan, dan sunyi.

Di kalangan pendaki, lokasi yang dipercaya sebagai Pasar Setan berada di jalur pendakian via Candi Cetho, tepatnya di sekitar Pos 5 menuju Hargo Dalem. Dari sinilah berbagai kisah bermula.

Ada pendaki yang mengaku mendengar seseorang menyapa, “Mau beli apa, Mas?” Padahal saat menoleh, tak ada seorang pun di sekitarnya. Ada pula cerita yang terus diwariskan bahwa jika mendengar suara tersebut, pendaki sebaiknya tidak menjawab, apalagi mengikuti arah datangnya suara.

Cerita lain yang berkembang menyebutkan, sebagian pendaki memilih melempar sejumlah uang ke arah suara sebagai simbol “membayar” dagangan yang konon ditawarkan. Tindakan itu dipercaya sebagai bentuk menghormati penghuni gaib kawasan tersebut. Sementara menurut cerita yang beredar, mereka yang mengabaikannya dipercaya dapat mengalami kesialan, kehilangan arah, atau tersesat sebelum akhirnya kembali menemukan jalur pendakian. Semua kisah itu hidup sebagai folklore yang diwariskan dari mulut ke mulut dan tidak pernah dapat dibuktikan secara ilmiah.

Lalu, mengapa cerita yang hampir sama terus muncul hingga sekarang?

Pemerhati budaya Jawa asal Karanganyar, Polet atau yang akrab disapa Mbak Po, mengajak masyarakat melihat Pasar Setan dari sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, legenda tersebut bukan sekadar cerita mistis, melainkan bagian dari warisan budaya yang lahir dari cara pandang masyarakat Jawa terhadap Gunung Lawu.

“Kalau hanya dimaknai sebagai cerita horor, justru kita kehilangan sisi yang paling penting. Gunung Lawu sejak dulu dipercaya memiliki kedudukan yang istimewa dalam pandangan masyarakat Jawa,” ujarnya.

Menurut Mbak Po, sejak masa lampau Gunung Lawu bukan hanya dipandang sebagai gunung untuk didaki. Lawu dipercaya sebagai ruang yang memiliki nilai spiritual sekaligus menjadi bagian dari kosmologi Jawa.

Ia menjelaskan, secara geografis Gunung Lawu berada pada posisi yang dianggap menghubungkan empat penjuru mata angin. Bahkan terdapat garis imajiner yang menghubungkan Gunung Lawu dengan Pura Mangkunegaran di Solo. Dalam pandangan leluhur Jawa, hubungan semacam itu bukan sekadar persoalan arah, melainkan simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

“Nenek moyang kita tidak menempatkan ruang-ruang penting secara sembarangan. Selalu ada filosofi yang melatarbelakanginya. Karena itu, Lawu menjadi salah satu gunung yang memiliki kedudukan khusus dalam budaya Jawa,” jelasnya.

Barangkali, di situlah letak misteri Pasar Setan yang sesungguhnya. Bukan pada suara-suara yang konon terdengar di tengah malam, melainkan pada bagaimana satu cerita mampu bertahan selama ratusan tahun, terus diingat, terus diceritakan, dan tetap hidup meski tak seorang pun mampu menunjukkan di mana sebenarnya pasar itu berada.

Mungkin, suatu malam nanti, ketika kabut kembali turun di lereng Lawu dan suara riuh itu kembali terdengar, pertanyaan yang sama akan kembali muncul.

Siapa sebenarnya yang sedang bertransaksi di balik sunyi Gunung Lawu?

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya