KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Dunia perkerisan yang selama ini identik dengan kaum laki-laki mulai menghadirkan wajah baru. Salah satunya adalah Intan Anggun Pangestu (32), perempuan asal Blitar yang turut terlibat dalam proses penempaan Keris Kiai Jaran Bigar, pusaka yang menjadi simbol budaya Kabupaten Karanganyar.
Dalam proses pembuatan keris Kiai Jaran Bigar, Intan bekerja bersama Empu Taufik dan tim. Bilah keris ditempa menggunakan perpaduan besi dan material meteorit yang disusun berlapis, kemudian dipanaskan dan dilipat berulang kali hingga membentuk pamor serta karakter bilah yang diinginkan.
“Sebelum penempaan dimulai, seluruh bahan terlebih dahulu melalui prosesi penyucian atau diwasuh. Material dibersihkan menggunakan air dari sumber alami sebagai bagian dari tradisi yang telah lama dijaga dalam dunia perkerisan,” ucap Intan, Kamis (2/7/2026).
Menurut Intan, proses penempaan dilakukan secara gotong royong. Setiap tahapan dikerjakan oleh tim yang telah membagi tugas masing-masing sehingga pekerjaan dapat berlangsung dengan baik.
Perjalanan Intan menjadi empu tidak berawal dari tradisi keluarga. Ia justru mengenal dunia perkerisan melalui jalur akademik saat memperoleh kesempatan belajar di Program Studi Keris Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Awalnya, Intan mengaku hanya mencoba mengikuti program beasiswa. Namun, selama menjalani pendidikan ketertarikannya terhadap seni tempa keris semakin tumbuh dan membawanya terus berkarya hingga sekarang.
Meski tidak mengalami kendala berarti dalam proses menempa, Intan menilai tantangan terbesar justru terletak pada regenerasi. Ia melihat dunia perkerisan masih didominasi laki-laki sehingga keterlibatan perempuan maupun generasi muda masih relatif terbatas.
“Meski demikian, saya meyakini perempuan memiliki ruang untuk berkontribusi dalam pelestarian budaya adiluhung tersebut,” imbuh pengajar di Program Studi Keris Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Sebagai empu yang menempuh jalur pendidikan formal, Intan berharap semakin banyak generasi muda tertarik mempelajari keris, bukan hanya sebagai senjata tradisional, tetapi juga sebagai karya seni, warisan budaya, dan hasil teknologi tempa Nusantara yang sarat nilai filosofi.
Keterlibatannya dalam penempaan Kiai Jaran Bigar menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan siapa saja, termasuk perempuan, selama memiliki kemauan untuk belajar, menjaga tradisi, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Sejarah lisan dan berbagai literatur mencatat bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam sejarah lahirnya pusaka Nusantara. Salah satu nama yang paling dikenal adalah Nyai Sombro, empu perempuan yang diyakini hidup pada masa Kerajaan Pajajaran.
Selain Nyai Sombro, naskah-naskah kuno juga menyebut nama Empu Anjani dan Empu Roro Sembogo sebagai empu perempuan yang menciptakan berbagai pusaka dengan nilai filosofis dan spiritual, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan perempuan.
Jejak empu perempuan terus berlanjut hingga masa kini. Salah satunya adalah Ika Arista, empu keris asal Madura dan Intan Anggun Pangestu merupakan seorang empu asal Blitar yang juga staf pengajar di Prodi Keris ISI Surakarta.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.