Beringin Tua 300 Tahun Ikon Sejarah Ubud Tumbang, Warga Rasakan Pesan Niskala

Tumbangnya beringin tua 300 tahun di halaman Puri Kantor Ubud memicu rasa kehilangan dan tafsir niskala warga. Simbol sejarah Ubud ini jadi pengingat keseimbangan alam dan budaya.

chat_bubble_outline 0
Pohon Beringin berusia 300 tahun lebih di Ubud Ambruk (Foto: HARIANKOTA)

BANGLI, HARIANKOTA.COM – Pohon beringin tua berusia sekitar 300 tahun yang selama ini menjadi simbol sejarah dan spiritual masyarakat Ubud tumbang di halaman Puri Kantor Ubud.

Peristiwa ini memunculkan rasa kehilangan mendalam sekaligus perbincangan luas di tengah warga yang memaknai tumbangnya beringin tersebut sebagai pesan niskala dalam kehidupan budaya Ubud.

Beringin tua itu selama ratusan tahun dipercaya bukan sekadar peneduh kawasan puri, melainkan penanda awal perjalanan Ubud. Banyak warga meyakini pohon tersebut memiliki keterkaitan spiritual dengan keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat sekitar.

Pengelingsir puri, Tjokorda Gede Asmara Putra Sukawati, menyatakan bahwa secara kasat mata tidak terdapat tanda-tanda cuaca ekstrem saat kejadian.

Menurutnya, tumbangnya beringin tua ini tidak bisa dilepaskan dari usia pohon yang sudah sangat renta.

“Kalau dilihat secara sekala, tidak ada hujan lebat atau angin kencang saat kejadian. Usianya memang sudah sangat tua. Tapi secara niskala, tentu setiap peristiwa memiliki makna yang patut direnungkan,” ujarnya.

Ia menegaskan, beringin tersebut memiliki posisi penting dalam sejarah Ubud dan puri. Karena itu, peristiwa ini tidak disikapi secara tergesa-gesa, melainkan dengan pertimbangan adat dan budaya.

“Ini bukan soal bangunan yang tertimpa. Yang kami rasakan adalah kehilangan simbol sejarah. Ke depan pasti ada paruman keluarga besar untuk menentukan sikap dengan bijaksana,” kata Tjokorda Gede Asmara.

Sejumlah warga Ubud juga mengungkapkan perasaan serupa. Mereka mengaku terkejut karena pohon tersebut tumbang dalam kondisi cuaca yang relatif normal. Situasi itu memunculkan rasa merinding dan keheningan sesaat di sekitar puri.

“Rasanya berbeda. Biasanya kalau pohon tumbang ada hujan atau angin besar. Ini seperti ada pesan yang mengingatkan kami agar lebih menjaga alam,” ujar salah seorang warga yang menyaksikan kejadian tersebut.

Meski demikian, warga menegaskan bahwa pemaknaan niskala tidak dimaksudkan sebagai ketakutan, melainkan refleksi. Dalam tradisi Bali, peristiwa alam sering dipahami sebagai pengingat untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual.

Batang dan dahan beringin sempat menimpa beberapa bangunan di sekitar puri. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Pembersihan dilakukan secara gotong royong oleh warga dan pihak puri sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap beringin yang selama ini dianggap bagian dari kehidupan bersama.

Di sisi lain, tokoh masyarakat mengingatkan agar peristiwa ini juga dilihat secara rasional. Pemantauan dan perawatan pohon-pohon tua di kawasan bersejarah dinilai penting untuk mencegah risiko serupa di masa mendatang.

Sebelumnya, BMKG juga menyampaikan adanya dinamika cuaca di Bali dalam beberapa waktu terakhir. Namun, pihak puri menilai tumbangnya beringin tua ini lebih dipengaruhi faktor usia alami, sementara makna spiritual menjadi ranah keyakinan masyarakat.

Bagi warga Ubud, tumbangnya beringin tua ini menjadi momentum perenungan bersama. Peristiwa tersebut dipandang sebagai pengingat akan rapuhnya warisan alam jika tidak dirawat dengan kesadaran kolektif.

“Beringin ini sudah menjaga Ubud ratusan tahun. Sekarang giliran kita yang menjaga nilai dan maknanya,” ujar seorang tokoh adat setempat.

Ke depan, masyarakat berharap kejadian ini mendorong perhatian lebih besar terhadap pelestarian pohon bersejarah dan ruang sakral di Ubud, agar keseimbangan antara budaya, alam, dan spiritualitas tetap terjaga di tengah perubahan zaman.***

Tidak ada komentar

Berita Terbaru Lainnya

Upacara Jumenengan PB XIV Lengkapi Tahapan Tradisi Keraton Surakarta

SOLO, HARIANKOTA.COM – Rangkaian adat jumenengan di Keraton Surakarta Hadiningrat bukan sekadar seremoni pergantian kepemimpinan. Prosesi yang dijalani selama dua hari menjadi bagian penting dalam melengkapi tahapan tradisi bertahtanya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIV Hangabehi. Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah […]

2 hari yang lalu