SOLO, HARIANKOTA.COM — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai menguji pola baru pengentasan kemiskinan dengan menjadikan pemuda dari keluarga kurang mampu sebagai sasaran utama pemberdayaan.
Program tersebut dikemas melalui Pilot Project Desa/Kelurahan Mandiri Sejahtera Berbasis Pemberdayaan Pemuda yang diluncurkan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Rabu (19/8/2026).
Taj Yasin mengatakan, program ini menyasar pemuda berusia 16-30 tahun yang berasal dari keluarga desil 1 hingga 4. Berdasarkan DTSEN Januari 2026, terdapat sekitar 3,49 juta pemuda di Jawa Tengah yang masuk kelompok tersebut.
Pemuda tidak langsung menerima bantuan. Mereka akan melalui asesmen untuk mengetahui kebutuhan, pengalaman, dan potensi masing-masing. Setelah itu, peserta mendapat pelatihan dan pendampingan sebelum memperoleh dukungan usaha.
“Bantuan ini tidak langsung diberikan. Kita asesmen dulu. Kebutuhannya apa? Kelompok tersebut sudah punya pengalaman apa? Kita berikan pelatihan dulu, kita berikan pendampingan dulu,” kata Taj Yasin.
Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan membuat bantuan berkembang menjadi kegiatan produktif yang mampu menambah pendapatan keluarga.
Program percontohan ini diterapkan di delapan desa dan kelurahan, yakni Semanggi, Nusukan, dan Mojosongo di Surakarta; Winduaji di Brebes; Belik dan Mendelem di Pemalang; Rejosari di Demak; serta Ngawen di Blora.
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menyambut program tersebut. Ia menilai pengentasan kemiskinan perlu dibarengi peningkatan keterampilan, kesempatan kerja, dan kemandirian ekonomi.
“Kita semua ingin pemuda tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi menjadi pelaku pembangunan yang memiliki keterampilan, pekerjaan atau usaha, penghasilan, dan pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya,” ujar Astrid.
Pemprov Jateng menyiapkan sejumlah bantuan untuk mendukung pilot project, antara lain PPSE Rp145 juta, Kube Rp480 juta untuk 24 kelompok, UEP Rp240 juta, serta dukungan Bank Jateng Rp600 juta.
Selain pelatihan keterampilan melalui Mobile Training Unit dan Hetero Business Leap, peserta juga mendapat akses program melalui Kartu Zilenial.
Dukungan lainnya meliputi Kartu Jateng Ngopeni, BLT DBHCHT, bantuan pendidikan, perbaikan RTLH, pembangunan jamban, sambungan listrik, hingga bantuan benih ikan nila merah.
Pemprov Jateng berharap program ini dapat menjadi model pemberdayaan pemuda yang bisa dikembangkan di wilayah lain sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan.

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.