KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Jalur pendakian Gunung Lawu kini tak sebebas dulu lagi. Pengelola resmi memperketat aturan pendakian di jalur Candi Cetho dan Cemoro Kandang setelah lonjakan pendaki memicu berbagai insiden, polemik, hingga meningkatnya risiko keselamatan di kawasan puncak Lawu.
Aturan baru itu langsung menyasar rombongan open trip dan pendaki tektok atau naik-turun dalam sehari yang belakangan kian membludak.
Kepala Bidang Operasional PUD Aneka Usaha Karanganyar selaku pengelola jalur pendakian Lawu, Titin Riyadi Ningsih, mewakili Direktur Utama PUD Aneka Usaha Samidi, menegaskan rombongan open trip berjumlah lebih dari tujuh orang kini wajib menggunakan guide lokal selama pendakian.
Kebijakan itu diterapkan untuk memperkuat pengawasan di jalur sekaligus menekan potensi kecelakaan yang belakangan menjadi perhatian serius pengelola.
“Kalau open trip lebih dari tujuh orang harus memakai guide lokal. Itu untuk mengantisipasi risiko dan menjaga keselamatan pendaki,” ujar Titin, Senin (25/5/2026).
Tak hanya fokus pada keselamatan, aturan baru tersebut juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi warga sekitar jalur pendakian melalui jasa guide dan porter lokal.
Sementara itu, aturan bagi pendaki tektok kini dibuat jauh lebih ketat. Setelah sempat ditutup, aktivitas tektok kembali dibuka sejak 10 Mei 2026 dengan sederet syarat baru yang wajib dipatuhi pendaki.
Pendaki tektok kini wajib registrasi H-1 sebelum keberangkatan dan dilarang mendaki sendirian. Pengelola mewajibkan minimal dua orang dalam satu perjalanan karena pendakian tektok dinilai memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibanding pendakian biasa.
“Karena tektok membutuhkan tenaga dua kali lipat, jadi kondisi pendaki harus benar-benar fit,” katanya.
Tak hanya itu, pengelola juga memberlakukan batas waktu ketat. Pendaki diwajibkan mulai turun maksimal pukul 13.00 WIB dari titik mana pun dan harus sudah kembali ke basecamp paling lambat pukul 20.00 WIB.
Aturan lain yang paling mencuri perhatian ialah kewajiban memasang aplikasi Strava bagi seluruh pendaki tektok. Aplikasi tersebut digunakan untuk memantau posisi pendaki secara real time selama perjalanan menuju puncak hingga turun kembali ke basecamp.
“Kami mewajibkan install aplikasi Strava untuk melihat posisi mereka sampai mana,” ujar Titin.
Sistem pengawasan berbasis aplikasi itu diterapkan agar proses pemantauan dan penanganan darurat bisa dilakukan lebih cepat apabila terjadi kendala di jalur pendakian.
Di sisi lain, pengelola juga mulai membenahi fasilitas keselamatan di kawasan Gunung Lawu. Mulai awal hingga pertengahan Juni 2026, papan petunjuk baru akan dipasang di sejumlah titik jalur pendakian.
Pemasangan tersebut melibatkan Rei Outdoor, relawan lokal, SAR, BPBD Karanganyar, komunitas Anak Gunung Lawu, hingga relawan jalur Candi Cetho.
Langkah itu dilakukan untuk memperkuat standar keselamatan sekaligus mempermudah navigasi para pendaki yang jumlahnya terus melonjak.
Sepanjang Mei 2026, minat pendakian Gunung Lawu tercatat sangat tinggi. Hingga 17 Mei 2026, jumlah pendaki melalui jalur Cemoro Kandang mencapai sekitar 1.900 orang.
Sementara jalur Candi Cetho menjadi yang paling padat dengan sekitar 2.700 pendaki. Sekitar lima persen di antaranya merupakan wisatawan mancanegara.
Meski aturan diperketat, tarif pendakian tetap Rp25 ribu per orang untuk wisatawan domestik maupun asing.***


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.