Tiga Warga Tengger Resmi Jadi Dukun Pandita Setelah Lolos Ujian Sakral Mulunen di Bromo

Tiga warga Tengger resmi menjadi Dukun Pandita setelah lulus ritual Mulunen di Gunung Bromo. Ujian sakral yang digelar setahun sekali ini menjadi penutup rangkaian Yadnya Kasada 2025

chat_bubble_outline 0
Puncak Kasada di Bromo Lahirkan Tiga Dukun Pandita Baru Lewat Ritual Sakral Mulunen (Foto: HARIANKOTA)

PROBOLINGGO, HARIANKOTA.COM – Tiga warga Tengger resmi menyandang gelar Dukun Pandita setelah lolos ujian sakral Mulunen di kawasan Gunung Bromo, Senin (1/6/2026) dini hari.

Ritual yang hanya digelar sekali dalam setahun itu menjadi penutup rangkaian Yadnya Kasada dan disaksikan ribuan umat Hindu Tengger di Pura Luhur Poten.

Tiga calon Dukun Pandita yang dinyatakan sah tersebut adalah Julianto dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Suyono dari Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, dan Sigit Rahadi dari Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.

Mulunen merupakan tahapan paling sakral dalam proses menjadi Dukun Pandita di kawasan Tengger. Dalam ritual ini, para peserta diuji kemampuan melafalkan mantra-mantra suci di hadapan para Dukun Pandita senior sebelum memperoleh pengesahan sebagai pemimpin spiritual umat Hindu Tengger.

Sejak sekitar pukul 03.00 WIB, kawasan Pura Luhur Poten telah dipadati umat yang ingin menyaksikan prosesi tersebut. Suasana khidmat menyelimuti area pura saat para penguji mulai memanggil satu per satu peserta untuk menjalani ujian.

Sebelum prosesi dimulai, Ketua Paruman Dukun Pandita Tengger, Romo Dukun Pandita Sutomo, membacakan sejarah Kasada dan asal-usul masyarakat Tengger. Acara kemudian dilanjutkan dengan Puja Stuti yang diikuti para Dukun Pandita dari seluruh kawasan Tengger.

Julianto menjadi peserta pertama yang menjalani ujian. Ia tampil percaya diri dan mampu melafalkan mantra dengan lancar hingga akhirnya dinyatakan sah sebagai Dukun Pandita.

Peserta berikutnya, Suyono, sempat mengulang sebagian mantra karena pelafalan yang kurang jelas. Namun setelah memperbaiki pengucapannya, ia berhasil menyelesaikan ujian dan dinyatakan memenuhi syarat.

Sementara itu, Sigit Rahadi yang mendapat giliran terakhir juga mampu melewati seluruh tahapan Mulunen dengan lancar hingga memperoleh pengesahan sebagai Dukun Pandita.

Wakil Ketua Paruman Dukun Pandita Tengger, Romo Dukun Pandita Rsi Eko Cokro Noto Bromo Telabah, mengatakan pelaksanaan Mulunen tahun ini berlangsung lancar dan seluruh peserta berhasil memenuhi syarat.

“Ketiganya lancar. Nantinya mereka akan bertugas melayani umat Hindu Tengger di wilayah masing-masing dan memimpin berbagai upacara yadnya,” ujarnya.

Ritual Mulunen menjadi penutup rangkaian Yadnya Kasada, tradisi keagamaan terbesar masyarakat Hindu Tengger yang digelar setiap tahun pada bulan Kasada dalam penanggalan Tengger dan bertepatan dengan Purnama Sada.

Sebelumnya, ribuan umat Hindu dari Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang mengikuti persembahyangan bersama di Pura Luhur Poten sebelum melaksanakan tradisi ngelabuh sesaji ke kawah Gunung Bromo.

Sekretaris Paruman Dukun Pandita Tengger sekaligus Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto, mengatakan tradisi Kasada merupakan warisan leluhur yang terus dijaga masyarakat Tengger dari generasi ke generasi.

Menurutnya, persembahan yang dibawa umat umumnya berupa hasil pertanian seperti kentang, kubis, daun bawang, dan berbagai komoditas sayuran lainnya sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan kehidupan yang diberikan Tuhan.

“Sebagian besar masyarakat Tengger berprofesi sebagai petani, sehingga persembahan yang dibawa dalam Kasada merupakan hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur,” katanya.

Bambang menambahkan seluruh rangkaian upacara di Pura Luhur Poten dilaksanakan berdasarkan Wewaler atau Uger-Uger Pura Luhur Poten, yakni aturan adat yang menjadi pedoman masyarakat Hindu Tengger dalam menjaga kesucian dan kelestarian tradisi.

Lahirnya tiga Dukun Pandita baru melalui ritual Mulunen tahun ini menjadi bagian penting dari regenerasi pemimpin spiritual masyarakat Tengger.

Di tengah perkembangan zaman dan meningkatnya aktivitas wisata di kawasan Bromo, tradisi sakral tersebut tetap terjaga sebagai warisan budaya dan keagamaan yang hidup di lereng gunung yang menjadi ikon Jawa Timur itu.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya

Upacara Jumenengan PB XIV Lengkapi Tahapan Tradisi Keraton Surakarta

SOLO, HARIANKOTA.COM – Rangkaian adat jumenengan di Keraton Surakarta Hadiningrat bukan sekadar seremoni pergantian kepemimpinan. Prosesi yang dijalani selama dua hari menjadi bagian penting dalam melengkapi tahapan tradisi bertahtanya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIV Hangabehi. Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah […]

2 hari yang lalu