BANYUMAS, HARIANKOTA.COM– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan kesiapsiagaan menghadapi peningkatan aktivitas Gunung Slamet melalui penguatan mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat.
Hal itu disampaikan dalam sosialisasi mitigasi bencana geologi di Banyumas, Kamis (23/4/2026). Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menegaskan bahwa mitigasi harus diwujudkan dalam kesiapan nyata di lapangan.
“Fokus utama adalah menyelamatkan masyarakat sejak dini dengan langkah yang tepat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rencana kontinjensi Gunung Slamet yang disusun sejak 2021 terus diperbarui sesuai perkembangan terbaru, termasuk jumlah penduduk dan potensi bahaya. Pengalaman bencana sebelumnya juga menjadi acuan peningkatan kesiapsiagaan.
Pemprov juga mendorong penguatan Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai garda terdepan penanganan darurat. Program ini menjadi bagian dari prioritas Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
Sementara itu, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, P. Hadi Wijaya, mengungkapkan adanya peningkatan signifikan aktivitas gunung.
“Suhu kawah naik hingga 460 derajat Celsius dan aktivitas gempa frekuensi rendah meningkat, menandakan pergerakan magma,” jelasnya.
PVMBG telah memperluas radius bahaya dari 2 kilometer menjadi 3 kilometer dari kawah, meski status masih Level II (Waspada). Pemantauan intensif terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan status.
Sosialisasi ini melibatkan BPBD dari lima kabupaten di sekitar Gunung Slamet guna menyamakan langkah penanganan. Pemerintah berharap kesiapsiagaan terpadu dapat meminimalkan risiko dan memastikan keselamatan masyarakat tetap terjaga.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.