Respati Ajak Kampus di Solo Atasi Krisis Sampah, TPA Putri Cempo Kian Kewalahan

Wali Kota Surakarta Respati Ardi mengajak perguruan tinggi berkolaborasi mengatasi persoalan sampah. TPA Putri Cempo kini menghadapi tekanan akibat timbulan sampah mencapai 400 ton per hari.

chat_bubble_outline 0

SOLO, HARIANKOTA.COM– Persoalan sampah di Kota Solo memasuki fase yang membutuhkan langkah cepat dan kolaboratif. Menyikapi kondisi tersebut, Wali Kota Surakarta Respati Ardi mengajak seluruh perguruan tinggi di Kota Solo terlibat aktif dalam mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Ajakan tersebut disampaikan saat memimpin Rapat Koordinasi Pengelolaan Sampah bersama pimpinan perguruan tinggi se-Kota Surakarta di Ruang Rapat Manganti Praja, Balai Kota Surakarta, Rabu (3/6).

Dalam forum tersebut, Respati mengungkapkan bahwa kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo semakin terbebani oleh tingginya volume sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari. Berdasarkan data Pemerintah Kota Surakarta, timbulan sampah harian mencapai sekitar 300 hingga 400 ton, sementara kemampuan pengolahan yang tersedia belum mampu mengimbangi jumlah tersebut.

Menurutnya, pola pengelolaan sampah yang selama ini diterapkan masih didominasi pendekatan linear, yakni sampah dikumpulkan, diangkut, lalu dibuang ke TPA. Sistem tersebut dinilai tidak lagi relevan karena hanya memindahkan masalah tanpa mengurangi volume sampah dari sumbernya.

Respati menegaskan bahwa Kota Solo harus mulai beralih menuju sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dengan mengedepankan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).

“Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola angkut dan buang. Pengurangan sampah harus dimulai dari sumbernya agar beban TPA tidak terus bertambah,” kata Respati.

Ia menjelaskan penerapan konsep 3R perlu dilakukan secara menyeluruh mulai dari lingkungan rumah tangga, sekolah, kampus, hingga kawasan usaha. Selain mengurangi timbulan sampah, pendekatan tersebut juga berpotensi menciptakan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam kesempatan itu, Respati menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan inovasi yang dapat melahirkan berbagai solusi pengelolaan sampah berbasis teknologi maupun perubahan perilaku masyarakat.

Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak budaya peduli lingkungan melalui penerapan konsep eco campus.

Pemerintah, lanjut Respati, akan terus memperkuat regulasi dan kebijakan pengelolaan sampah. Sementara masyarakat didorong untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah, dan perguruan tinggi diharapkan berkontribusi melalui edukasi, riset, serta inovasi pengelolaan lingkungan.

Ia juga mengapresiasi dukungan para akademisi dan praktisi lingkungan yang selama ini aktif memberikan masukan kepada Pemerintah Kota Surakarta dalam upaya menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Respati menegaskan bahwa keberhasilan mengatasi persoalan sampah tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, langkah paling penting adalah memastikan pengelolaan sampah dimulai dari hulu sehingga jumlah sampah yang berakhir di TPA dapat terus ditekan.

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya