KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Keluhan terkait kualitas minyak goreng bantuan pangan mencuat di Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Karanganyar. Ratusan warga penerima bantuan melaporkan minyak goreng yang mereka terima mengeluarkan aroma menyerupai solar atau minyak tanah sehingga memilih mengembalikannya ke kantor kelurahan.
Pemerintah kelurahan bersama pihak terkait kini melakukan pendataan dan menyiapkan proses penukaran seluruh minyak goreng yang diduga bermasalah agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Lurah Tegalgede, Bowo Budi Setyo, menjelaskan bahwa keluhan hanya ditemukan pada minyak goreng yang disalurkan dalam program Bantuan Pangan 2026. Sementara itu, bantuan beras yang diterima warga tidak ditemukan masalah.
“Sejauh ini tidak ada laporan terkait beras. Keluhan yang masuk hanya pada minyak goreng karena warga mencium aroma yang menyerupai solar,” kata Bowo, Rabu (24/6/2026).
Berdasarkan data Kelurahan Tegalgede, sebanyak kurang lebih 850 paket minyak goreng telah didistribusikan kepada keluarga penerima manfaat. Setiap keluarga menerima dua kemasan minyak goreng dengan total 4 liter serta bantuan beras sebanyak 20 kilogram.
Keluhan pertama muncul dari sejumlah warga yang mengaku mencium aroma tidak biasa saat membuka kemasan minyak goreng. Informasi tersebut kemudian menyebar dari mulut ke mulut hingga banyak warga memilih mengembalikan produk yang diterima.
Ketua RT 1 RW 7 Kelurahan Tegalgede, Yono, membenarkan adanya laporan dari warga di lingkungannya. Menurut dia, sebagian besar keluhan yang diterima memiliki kesamaan, yakni aroma yang menyerupai solar.
“Rata-rata warga yang mengeluh menyampaikan hal yang sama, yaitu bau solar. Karena itu saya sarankan untuk langsung mengembalikan ke kelurahan,” ujarnya.
Di wilayah RT 1 RW 7 terdapat sekitar 15 keluarga penerima bantuan. Namun, Yono mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah warga yang sudah mengembalikan minyak goreng karena proses pengembalian dilakukan langsung oleh masing-masing penerima.
Koordinator lingkungan Kelurahan Tegalgede, Erwin Sasongko, mengatakan distribusi bantuan dilakukan pada pekan lalu. Setelah muncul laporan dari warga, pengembalian minyak goreng mulai dilakukan sejak awal pekan ini.
“Sebagian warga mengembalikan minyak karena mencium bau solar. Ada juga yang sudah membuka kemasan bahkan sempat menggunakannya untuk memasak,” kata Erwin.
Menurutnya, sekitar 70 persen penerima bantuan telah mengembalikan minyak goreng tersebut sebagai langkah antisipasi. Pengembalian tidak hanya dilakukan pada kemasan yang sudah terindikasi bermasalah, tetapi juga pada produk yang belum dibuka.
Pemerintah kelurahan telah berkoordinasi dengan tim bantuan sosial dan Bulog terkait penanganan keluhan warga. Seluruh paket minyak goreng yang diduga bermasalah akan diganti dengan produk baru.
“Informasinya seluruh minyak goreng akan diganti, baik yang sudah dilaporkan bermasalah maupun yang belum dibuka. Tujuannya agar masyarakat merasa aman dan tidak khawatir,” jelas Erwin.
Meski beberapa warga mengaku sempat menggunakan minyak goreng tersebut untuk memasak, hingga kini belum ada laporan mengenai gangguan kesehatan akibat konsumsi makanan yang diolah menggunakan minyak bantuan tersebut.
“Sampai sekarang belum ada laporan warga yang mengalami keluhan kesehatan atau efek lainnya,” pungkasnya.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.