KARANGANYAR HARIANKOTA.COM – Hamparan bawang putih seluas sekitar 30-40 hektare di Kalisoro, Tawangmangu, Karanganyar, menyimpan potensi produksi hingga ratusan ton dalam satu musim.
Dengan produktivitas varietas Tawangmangu Baru yang bisa mencapai 15 ton per hektare, hasil panen diperkirakan mencapai 450-600 ton bawang putih cabut basah.
Potensi tersebut terlihat dari lahan milik petani yang dikelola Kelompok Tani Taruna Tani Maju di Dusun Panjot Lor, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakapolda Jawa Tengah Brigjen Pol Latif Usman, Bupati Karanganyar Rober Christanto, Kapolres Karanganyar AKBP Arman Sahti, serta Dandim 0727/Karanganyar Letkol Kav Dhanang Prasetyo Kurniawan.
Wakapolda Jawa Tengah Brigjen Pol Latif Usman mengatakan sejumlah daerah mendapatkan bibit dari kawasan Tawangmangu.
“Tawangmangu merupakan salah satu sentra bibit. Beberapa daerah mengambil bibit dari Tawangmangu,” ujar Latif seusai mengikuti zoom bersama Kapolri, Rabu 19 Agustus 2026.
Menurutnya, Jawa Tengah memiliki kontribusi besar terhadap pasokan bawang putih nasional. Sejumlah daerah yang dikenal sebagai kawasan produksi antara lain Karanganyar, Batang, Tegal, Pemalang, Temanggung, dan Semarang.
Dalam kegiatan penanaman dan panen serentak, luas penanaman bawang putih di Jawa Tengah disebut mencapai sekitar 11,8 hektare. Sementara luas panen raya hingga September diperkirakan sekitar 110 hektare.
Di tengah peluang produksi yang besar, petani masih menghadapi tantangan kondisi cuaca. Bawang putih membutuhkan kondisi yang relatif kering pada fase pertumbuhan tertentu.
Bejo mengatakan kondisi panas dan kemarau yang cukup panjang justru dapat mendukung pertumbuhan tanaman.
“Semakin panas dan semakin panjang kemarau, semakin bagus bawang putih. Tidak boleh terlalu banyak air,” tuturnya.
Sebaliknya, curah hujan tinggi dan angin kencang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman sehingga perlu diantisipasi petani.
Untuk mendukung peningkatan produksi, Latif mengatakan Polri akan berkoordinasi dengan instansi terkait guna mengetahui kebutuhan petani di lapangan, termasuk pupuk dan alat mesin pertanian (alsintan).
“Kami akan menggali dari petani apa yang diinginkan dan apa yang diharapkan, kemudian memfasilitasi, termasuk kebutuhan pupuk dan alsintan,” kata Latif.
Dengan luas lahan puluhan hektare dan potensi produksi hingga 15 ton per hektare, bawang putih Tawangmangu memiliki peluang untuk terus dikembangkan.
Namun, peningkatan produksi juga perlu dibarengi dengan kepastian pasar, ketersediaan bibit berkualitas, biaya produksi yang efisien, dukungan sarana pertanian, serta antisipasi terhadap perubahan cuaca.
Jika berbagai faktor tersebut dapat diperkuat, Tawangmangu berpeluang semakin berperan sebagai salah satu kawasan penting dalam produksi dan penyediaan bibit bawang putih di Jawa Tengah.
Kelompok Tani Taruna Tani Maju Kalisoro, Bejo Supriyanto, mengatakan pengembangan bawang putih menjadi peluang bagi petani setempat sekaligus mendukung program peningkatan produksi dalam negeri.
“Saya merasa bangga. Hari ini bawang putih diberikan panggung dan tempat. Kami petani bawang putih akan berusaha menyukseskan program pemerintah untuk swasembada bawang putih,” kata Bejo.
Menurut Bejo, salah satu keunggulan bawang putih varietas Tawangmangu Baru terletak pada tingkat produksinya. Dalam kondisi tertentu, varietas tersebut dapat menghasilkan sekitar 15 ton bawang putih cabut basah per hektare.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan produktivitas yang umumnya berada di kisaran 10 ton per hektare.
“Kalau umumnya sekitar 10 ton cabut basah per hektare, Tawangmangu bisa 15 ton. Umbinya juga besar-besar,” ujarnya.
Selain ukuran umbi, Bejo menyebut karakter aroma bawang putih tersebut juga menjadi salah satu keunggulan yang dimiliki varietas Tawangmangu Baru.
Lahan bawang putih di Kalisoro dikelola secara mandiri oleh petani. Bejo menyebut luas tanaman saat ini berada di kisaran 30-40 hektare.
“Ini milik petani sendiri. Teman-teman kami mandiri, tidak ada bantuan,” katanya.
Karena waktu tanam tidak dilakukan secara serentak, masa panen juga berlangsung secara bertahap. Tanaman yang mulai ditanam pada Mei diperkirakan memasuki masa panen pada Agustus hingga September.
Potensi Tawangmangu tidak hanya berada pada produksi bawang putih konsumsi. Kawasan tersebut juga memiliki peran sebagai salah satu sumber bibit bagi pengembangan tanaman bawang putih di daerah lain.

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.