SEMARANG, HARIANKOTA.COM– Ancaman banjir dan dampak perubahan iklim mendorong Jawa Tengah memperkuat pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara bersama-sama.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggandeng delapan pemerintah daerah serta mitra internasional untuk memperkuat ketahanan masyarakat dari kawasan hulu hingga hilir.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan penguatan kebijakan dan implementasi ketahanan iklim serta pengurangan risiko banjir.
Kegiatan berlangsung di Hotel Gumaya, Kota Semarang, Rabu (5/8/2026) lalu dengan melibatkan Mercy Corps Indonesia dan Zurich Climate Resilience Alliance.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno mengatakan, perubahan iklim telah memberikan dampak yang dirasakan masyarakat. Karena itu, penanganannya membutuhkan keterlibatan berbagai daerah dan pemangku kepentingan.
Menurutnya, pengelolaan DAS tidak dapat dilakukan berdasarkan batas administratif. Aliran sungai melewati sejumlah kabupaten dan kota sehingga kebijakan di wilayah hulu maupun hilir perlu saling terhubung.
“Pengelolaan DAS tidak bisa dibatasi oleh wilayah administratif. Diperlukan kolaborasi lintas daerah sesuai kewenangan masing-masing agar tujuan bersama dapat tercapai,” kata Sumarno.
Ia menjelaskan, DAS memiliki fungsi penting sebagai sumber air baku masyarakat sekaligus mendukung kebutuhan irigasi pertanian.
Namun, kerusakan lingkungan dan meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim membuat upaya perlindungan DAS perlu diperkuat.
Selain menjaga ketersediaan air, program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesiapan masyarakat yang tinggal di kawasan DAS dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
“Yang tidak kalah penting adalah membangun kesiapan dan ketangguhan masyarakat yang tinggal di kawasan daerah aliran sungai agar mampu menghadapi berbagai dampak perubahan iklim di masa mendatang,” ujarnya.
Executive Director Mercy Corps Indonesia Ade Soekadis mengatakan, perubahan iklim dan kebencanaan merupakan persoalan lintas sektor sehingga membutuhkan pendekatan berbasis bentang alam.
Menurut dia, penanganan tidak cukup dilakukan di satu wilayah, tetapi harus menghubungkan kawasan hulu dan hilir, termasuk wilayah pesisir.
“Perubahan iklim, resiliensi, dan kebencanaan bukan persoalan satu sektor. Ini isu multisektoral yang tidak hanya terjadi di wilayah pesisir, tetapi juga di kawasan hulu,” katanya.
Program ketahanan iklim tersebut akan diterapkan di kawasan DAS Tuntang yang mencakup Kota Salatiga, Kabupaten Semarang, Grobogan, dan Demak. Selain itu, program menyasar DAS Babon yang meliputi Kota Semarang, Kabupaten Semarang, dan Demak.
Ade berharap kerja sama tersebut dapat menghasilkan model kolaborasi lintas wilayah yang bisa memperkuat ketahanan masyarakat sekaligus menekan risiko bencana.
“Program ini bukan hanya milik Mercy Corps, tetapi menjadi program bersama yang melengkapi dan bersinergi dengan program pemerintah,” ujarnya.
Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi dasar untuk memperluas program ketahanan iklim secara berkelanjutan di Jawa Tengah, khususnya dalam pengelolaan DAS dan pengurangan risiko bencana.

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.