Banana Krezz Jadi Alternatif Oleh-oleh Pisang di Karanganyar, Produksi Tembus 1.000 Boks per Hari

Karanganyar adalah kabupaten di Jawa Tengah yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di lereng Gunung Lawu. Wilayah ini memiliki kawasan wisata populer seperti Tawangmangu, Karangpandan, dan Ngargoyoso, serta berkembang sebagai sentra UMKM, kuliner lokal, dan oleh-oleh khas daerah. Berita Karanganyar mencakup isu pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, dan perkembangan daerah

chat_bubble_outline 0
Kisah Aris Munandar Merintis Banana Krezz, Oleh-oleh Pisang Khas Karanganyar (Foto: HARIANKOTA.COM)

KARANGANYAR, HARIANKOTA. COM – Banana Krezz, produk olahan pisang berbalut pastry dari Kampoeng Banana Krezz Karanganyar, mulai dirintis pada akhir masa pandemi Covid-19 sebagai alternatif oleh-oleh wisata di kawasan Tawangmangu dan sekitarnya.

Produk ini dikembangkan untuk mengisi ceruk pasar yang belum banyak digarap, di tengah kuatnya dominasi molen pisang sebagai oleh-oleh khas Karanganyar.

Pemilik Kampoeng Banana Krezz, Aris Munandar, mengatakan gagasan tersebut muncul setelah dua produk sebelumnya—Omah Pie dan Lapis Ubi—tidak mampu bersaing di pasar yang telah lebih dulu dikuasai pemain lama.

“Di pie kami kalah bersaing, di lapis ubi juga sudah ada pemain besar. Dari situ kami memutuskan mencari produk baru yang benar-benar berbeda,” ujar Aris saat ditemui di Kampoeng Banana Krezz, Kamis (1/1/2026).

Berangkat dari potensi lokal, Aris memilih pisang Bawen khas Tawangmangu yang dikenal manis, bertekstur padat, dan memiliki kadar air rendah. Namun ia sengaja tidak mengolahnya menjadi molen pisang yang sudah melekat sebagai identitas daerah.

“Kami tidak ingin masuk ke produk yang pasarnya sudah terlalu padat. Akhirnya kami mengembangkan pisang goreng dengan balutan pastry yang diproduksi sendiri,” jelasnya.

Pada awal perintisan, produksi Banana Krezz masih terbatas, sekitar 300 boks per hari. Seiring meningkatnya kunjungan wisata ke kawasan Tawangmangu dan Karangpandan, permintaan terus bertambah.

Saat ini, rata-rata produksi telah mencapai sekitar 1.000 boks per hari dan dapat meningkat hingga dua kali lipat pada akhir pekan serta musim liburan sekolah.

Dalam pengadaan bahan baku, Kampoeng Banana Krezz tidak sepenuhnya menggunakan pisang Bawen. Untuk menjaga ketersediaan pasokan dan tidak mengganggu pelaku UMKM molen pisang, bahan baku dikombinasikan dengan pisang tanduk.

“Kalau semua mengambil pisang Bawen, suplai bisa terganggu dan harga pisang bisa naik. Kami tidak ingin pertumbuhan usaha kami justru menyulitkan pelaku usaha lain,” kata Aris.

Saat ini, Kampoeng Banana Krezz mengoperasikan lima gerai di wilayah Karanganyar. Gerai paling ramai berada di jalur wisata Tawangmangu–Karangpandan. Menurut Aris, pemilihan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan jarak tempuh wisatawan dari destinasi utama.

“Kalau terlalu dekat, orang malas berhenti. Biasanya setelah 30 hingga 60 menit perjalanan, wisatawan mulai mencari tempat singgah dan oleh-oleh,” ujarnya.

Banana Krezz tersedia dalam lima varian rasa, yaitu original pisang, durian, sukari, ubi, dan cokelat. Produk ini dijual dengan harga sekitar Rp25.000 per boks berisi enam potong, sehingga praktis dibawa sebagai buah tangan.

Dari sisi pasar, pembeli didominasi wisatawan luar daerah, terutama rombongan wisata dan biro perjalanan dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Pada periode libur panjang tertentu, seperti Natal dan Tahun Baru, omzet penjualan justru mengalami penurunan. Aris menjelaskan, kondisi tersebut disebabkan berkurangnya perjalanan bus wisata.

“Segmen utama kami adalah rombongan wisata. Ketika jumlah bus berkurang, dampaknya langsung terasa,” ujarnya.

Pejabat Humas Kampoeng Banana Krezz, Aji Sudarsono, mengatakan Banana Krezz tidak hanya diposisikan sebagai produk, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memperkuat citra oleh-oleh Karanganyar.

“Kami ingin wisatawan memiliki pilihan oleh-oleh yang kuat selain molen pisang,” kata Aji.

Selain Banana Krezz, Kampoeng Banana Krezz juga menghadirkan berbagai produk pendukung seperti Chili Banana, keripik pisang, bolu, dan roti kering. Pihaknya juga membuka ruang bagi pelaku UKM lokal untuk menitipkan produk.

“Kami ingin Kampoeng Banana Krezz menjadi etalase oleh-oleh Karanganyar, bukan hanya menjual merek kami sendiri,” jelasnya.

Gerai Kampoeng Banana Krezz juga dilengkapi fasilitas restoran, coffee shop dengan sajian kopi lokal, serta hiburan musik pada akhir pekan.

Konsep ini dikembangkan agar wisatawan tidak hanya berhenti untuk berbelanja, tetapi juga dapat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Dengan pendekatan tersebut, Banana Krezz diharapkan dapat memperkuat pilihan oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Karanganyar, sekaligus melengkapi daya tarik pariwisata daerah yang selama ini dikenal melalui wisata alamnya.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya