Minyakita Berbau Solar Diusut, Satgas Temukan Produk Tanpa Kode Produksi saat Periksa Pabrik

Kasus Minyakita berbau solar di Karanganyar terus diselidiki. Satgas Pangan menemukan produk tanpa kode produksi saat inspeksi ke pabrik produsen.

chat_bubble_outline 0
Tim gabungan melakukan inspeksi ke pabrik produsen Minyakita menyusul temuan minyak goreng bantuan pangan yang dikeluhkan warga Karanganyar karena berbau solar (Foto; HARIANKOTA)

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Penelusuran kasus minyak goreng bantuan pangan berbau solar di Kabupaten Karanganyar mengungkap temuan baru.

Saat mendatangi pabrik produsen, tim gabungan menemukan produk yang dipersoalkan warga tidak dilengkapi kode produksi yang memadai, sehingga berpotensi menyulitkan proses pelacakan ketika muncul keluhan di lapangan.

Temuan itu muncul di tengah penyelidikan terhadap aroma menyerupai solar yang ditemukan warga pada minyak goreng bantuan pangan program pemerintah.

Dalam klarifikasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Karanganyar bersama Satgas Pangan, pihak perusahaan juga mengakui produk yang dikeluhkan masyarakat memang diproduksi oleh pabrik mereka.

Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (Disdagperinaker) Kabupaten Karanganyar, Agung Wahyu Utomo, mengatakan tim tidak hanya meminta penjelasan dari manajemen perusahaan, tetapi juga menelusuri proses produksi hingga sistem pengawasan mutu yang diterapkan.

“Dari pengecekan tadi kami menemukan produk hanya mencantumkan masa kedaluwarsa. Kode produksi yang bisa digunakan untuk penelusuran lebih detail tidak kami temukan,” kata Agung usai inspeksi, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, keberadaan kode produksi merupakan bagian penting dalam sistem pengawasan pangan.

Melalui identitas tersebut, produsen maupun regulator dapat menelusuri asal produk, waktu produksi, hingga jalur distribusi apabila ditemukan persoalan di kemudian hari.

Karena itu, temuan tersebut menjadi salah satu catatan yang akan didalami lebih lanjut oleh tim gabungan bersamaan dengan penyelidikan terhadap dugaan penyebab munculnya aroma solar pada minyak goreng yang telah beredar di masyarakat.

Dalam pertemuan dengan tim gabungan, pihak perusahaan juga menyampaikan dugaan awal terkait sumber persoalan.

Manajemen perusahaan menyebut aroma solar kemungkinan berasal dari proses pengangkutan bahan baku menggunakan armada ekspedisi yang diduga sebelumnya pernah digunakan untuk mengangkut bahan bakar.

Namun penjelasan tersebut belum diterima sebagai kesimpulan akhir.

Agung menegaskan dugaan yang disampaikan perusahaan masih memerlukan pembuktian melalui pemeriksaan laboratorium dan penelusuran lebih lanjut terhadap seluruh rantai produksi.

“Mereka menyampaikan kemungkinan dari armada ekspedisi saat pengambilan bahan baku. Tetapi itu masih dugaan dari mereka. Kami belum bisa menyimpulkan karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujarnya.

Tim gabungan selanjutnya melakukan pengecekan terhadap sejumlah tahapan produksi, mulai dari penerimaan bahan baku curah, proses pengolahan, pengemasan, hingga distribusi produk jadi. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada tahapan yang luput dari pengawasan dan berpotensi menjadi sumber masalah.

Menurut Agung, produk yang telah dipasarkan kepada masyarakat seharusnya sudah melewati proses pengendalian mutu yang ketat. Karena itu, dugaan kontaminasi pada salah satu tahapan produksi maupun distribusi perlu dibuktikan secara ilmiah sebelum ditarik kesimpulan.

Kasus ini mendapat perhatian khusus karena perusahaan yang diperiksa bukan pemasok untuk satu wilayah saja.

Berdasarkan informasi yang diterima tim saat klarifikasi, produsen tersebut memasok minyak goreng Minyakita ke berbagai daerah di Indonesia.

Sementara untuk penyaluran bantuan pangan di Kabupaten Karanganyar, produk yang kini menjadi objek penyelidikan diketahui didistribusikan ke sejumlah wilayah, antara lain Kecamatan Karanganyar, Karangpandan, dan Mojogedang.

Saat ini, produk yang dikeluhkan warga telah ditarik dari peredaran untuk kepentingan pemeriksaan. Sampel minyak goreng tersebut akan menjalani uji laboratorium guna memastikan apakah terdapat kontaminasi zat tertentu atau faktor lain yang menyebabkan munculnya aroma menyerupai solar.

Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah, Satgas Pangan, dan aparat penegak hukum dalam menentukan penyebab pasti sekaligus langkah lanjutan yang akan diambil.

Hingga proses klarifikasi dan inspeksi lapangan selesai dilakukan, pihak perusahaan belum memberikan keterangan kepada awak media yang telah menunggu di luar area pabrik.

Padahal, sebelum meninggalkan lokasi, Kepala Disdagperinaker Kabupaten Karanganyar Agung Wahyu Utomo sempat meminta agar pihak perusahaan bersedia memberikan penjelasan kepada wartawan terkait hasil klarifikasi yang telah dilakukan bersama tim gabungan.

Namun hingga rombongan meninggalkan lokasi, tidak ada perwakilan perusahaan yang menemui media untuk memberikan keterangan resmi.

Akibatnya, sejumlah pertanyaan terkait sumber pasti aroma solar, hasil investigasi internal perusahaan, hingga langkah yang akan ditempuh produsen untuk menjamin keamanan produk yang telah beredar masih belum memperoleh jawaban langsung dari pihak perusahaan.

Sementara itu, penyelidikan dan pengujian laboratorium masih terus berjalan. Pemerintah daerah menegaskan akan menunggu hasil pemeriksaan tersebut sebelum mengambil kesimpulan mengenai penyebab pasti munculnya aroma solar pada minyak goreng bantuan pangan yang sempat dikeluhkan warga Karanganyar.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya

Polisi Jadwalkan Pemeriksaan Terlapor dalam Kasus Dugaan Pelecehan SPG di Solo

SOLO, HARIANKOTA.COM  – Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap seorang Sales Promotion Girl (SPG) di Kota Solo memasuki babak baru. Setelah memeriksa sejumlah saksi, Polresta Surakarta kini menjadwalkan pemeriksaan terhadap pihak yang dilaporkan dalam kasus tersebut. Perkara dugaan pelecehan SPG di Solo ini sebelumnya menjadi perhatian publik setelah korban melaporkan tindakan tidak pantas yang diduga terjadi […]

2 hari yang lalu