SOLO, HARIANKOTA.COM – Siapa sangka, di balik lalu lalangnya bus modern di jalanan Jawa Tengah, tersimpan sebuah kisah perjalanan panjang dan penuh warna dari sebuah perusahaan otobus legendaris: PO. Rajawali.
Seperti dikutip HARIANKOTA.COM dari potrojoyo blogger, berawal dari sebuah inisiatif sederhana di tahun 1959, PO. Rajawali menjelma menjadi salah satu pemain kunci transportasi darat yang namanya tak lekang dimakan zaman.
Mulanya, dengan nama PO. ATG, perusahaan ini fokus melayani wisatawan yang ingin menikmati keindahan berbagai destinasi. Dua tahun berselang, tepatnya tahun 1961, sebuah babak baru dimulai.
Rute reguler Solo-Kartasura-Boyolali-Ampel PP resmi dibuka, menandai lahirnya nama baru: PO. Salam. Nama ini menemani para pelancong dan pekerja yang hilir mudik di jalur tersebut.
Titik balik penting terjadi sekitar tahun 1964. Nama “Radjawali” mulai berkibar, seiring dengan perluasan trayek hingga mencapai Semarang melalui Solo-Salatiga-Tuntang.
Langkah ini menjadi fondasi bagi ekspansi yang lebih luas di tahun-tahun berikutnya, merambah rute Solo-Madiun PP dan Solo-Jogja-Magelang PP.
Namun, kejutan menarik justru datang di era 1980-an hingga awal 1990-an. PO. Rajawali rupanya menjalankan bisnisnya dengan tiga nama atau brand sekaligus! Selain “Radjawali” yang telah dikenal luas, muncul dua nama lain yang tak kalah familiar di masanya: “Wilis” dan “Patra Jaya”.
Nama “Wilis” hadir setelah PO Rajawali mengakuisisi perusahaan otobus Wilis beserta jalur-jalurnya yang melayani Solo-Semarang dan Solo-Purwodadi.
Hebatnya, nama Wilis ini dipertahankan cukup lama, menunjukkan strategi bisnis yang unik dalam memanfaatkan popularitas merek yang sudah ada.
Kisah “Patra Jaya” bahkan lebih menarik. Nama ini muncul dari sebuah inisiatif kerjasama dengan seorang pensiunan karyawan Pertamina.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.