MALANG, HARIANKOTA.COM – Bagi sebagian besar masyarakat Jawa Timur, PO Bagong adalah bagian dari denyut transportasi harian.
Armada berwarna hijau khas perusahaan ini telah puluhan tahun menjadi pemandangan akrab di berbagai jalur utama, terutama pada koridor Surabaya, Malang, Tulungagung, hingga Trenggalek.
Setiap hari, ribuan penumpang menggunakan layanan perusahaan tersebut untuk bekerja, bersekolah, berdagang, maupun melakukan perjalanan antarkota. Di tengah ketatnya persaingan industri transportasi darat, nama Bagong tetap bertahan dan bahkan terus berkembang hingga kini.
Namun, apa yang terlihat di jalan raya hanyalah sebagian kecil dari kekuatan bisnis yang dimiliki perusahaan asal Malang tersebut.
Di balik identitasnya sebagai operator bus antarkota, Bagong telah berkembang menjadi perusahaan transportasi dengan cakupan usaha yang jauh lebih luas. Aktivitas bisnisnya tidak hanya berada di terminal dan jalur antarkota, tetapi juga menjangkau kawasan industri dan pertambangan yang jarang diketahui masyarakat umum.
Sebagian besar armadanya bahkan beroperasi jauh dari sorotan publik, melayani kebutuhan transportasi di sektor pertambangan dan industri di Kalimantan. Bisnis inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting pertumbuhan perusahaan selama puluhan tahun terakhir.
Perjalanan panjang tersebut membuat Bagong perlahan bertransformasi dari perusahaan otobus daerah menjadi kelompok usaha transportasi berskala besar. Jumlah armadanya disebut mencapai ribuan unit yang tersebar di berbagai wilayah operasional, mulai dari Jawa hingga Kalimantan.
Tidak berhenti di dalam negeri, perusahaan ini juga mulai merambah pasar internasional. Pada 2023, Bagong membuka layanan lintas negara yang menghubungkan Kupang, Nusa Tenggara Timur, dengan Dili, Timor Leste, sebuah langkah yang menandai babak baru ekspansi bisnis perusahaan.
Di balik perkembangan tersebut terdapat sosok yang menjadi arsitek awal berdirinya perusahaan. Ia adalah Hari Susilo, pengusaha transportasi asal Malang yang mendirikan PO Bagong pada 12 September 1994 setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia otomotif dan angkutan sejak era 1980-an.
Dari tangan Hari Susilo, lahirlah sebuah perusahaan yang pada awalnya hanya dikenal sebagai operator bus antarkota di Jawa Timur. Namun seiring waktu, berbagai keputusan bisnis yang diambilnya justru menjadi fondasi bagi lahirnya salah satu perusahaan transportasi terbesar di kawasan timur Indonesia.
Salah satu langkah yang membuat Bagong berbeda sejak awal adalah keberaniannya menghadirkan medium bus berkapasitas 36 kursi. Di era ketika sebagian besar perusahaan otobus masih mengandalkan armada besar, konsep tersebut tergolong inovatif dan belum banyak diterapkan operator lain.
Strategi itu terbukti efektif. Selain lebih efisien secara operasional, medium bus memungkinkan perusahaan menjangkau lebih banyak pasar dan meningkatkan frekuensi perjalanan. Dari sinilah fondasi pertumbuhan PO Bagong mulai terbentuk sebelum akhirnya berkembang menjadi bisnis transportasi berskala nasional.***


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.