Yayasan Bali Ndeso Berbakti Gandeng Petani Milenial, Pasok Sayuran Sehat untuk Dapur MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karanganyar mulai melibatkan petani lokal Gondosuli sebagai pemasok sayuran sehat melalui sistem rumah plastik yang minim pestisida dan berkelanjutan.

chat_bubble_outline 0
Sistem pertanian rumah plastik di Gondosuli Tawangmangu pasok sayur untuk MBG

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM– Yayasan Bali Ndeso Berbakti bersama Koperasi Mitra Usaha Jaya Karanganyar menggandeng petani muda inovatif, Lartono Wisnu Hanggono untuk memenuhi kebutuhan sayur mayur Dapur MBG.

Kolaborasi ini memanfaatkan sistem pertanian modern rumah plastik di Gondosuli Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karanganyar mulai diarahkan untuk melibatkan petani lokal sebagai pemasok bahan pangan.

Pengurus Yayasan Bali Deso Berbakti Aji Sudarsono sampaikan langkah ini diambil berlandaskan ketentuan wajib tentang Pengelolaan MBG yang menekankan standar kualitas, kuantitas, dan keamanan pangan.

Pihaknya berupaya menjembatani petani agar agar dapat menyuplai kebutuhan sayur bagi dapur MBG yang dikelola yayasan secara berkelanjutan.

“Kami ingin petani punya wadah agar bisa mensuplai dapur MBG tanpa bertentangan dengan aturan yang ada, terutama terkait kualitas dan standar bahan pangan,” ujar Aji, Kamis (30/1/2026) malam.

Sebagai langkah awal, Yayasan Bali Ndeso menggandeng petani sayur di wilayah Gondosuli yang membangun rumah plastik secara swadaya. Model ini dinilai mampu menjaga kualitas karena lebih tahan cuaca dan minim penggunaan pestisida.

“Rumah plastik ini penting untuk menekan residu pestisida dan menjaga kualitas sayuran, sehingga lebih aman dikonsumsi anak-anak,” katanya.

Saat ini, baru dua petani greenhouse telah menyuplai tiga dapur MBG milik Yayasan Bali Ndeso, yakni dapur Popongan, Toh Kuning, dan Tugu 1 Jatiyoso. Pasokan meliputi sayuran lokal seperti wortel, kentang, buncis, kacang panjang, seledri, dan bawang daun.

Setiap dapur MBG membutuhkan sekitar 20 kilogram sayuran per hari. Untuk memenuhi seluruh kebutuhan delapan dapur yang dikelola Balindeso, dibutuhkan lebih banyak petani yang terlibat.

“Kami berharap model ini bisa diduplikasi agar lebih banyak petani lokal ikut berkontribusi dan potensi daerah tidak terbuang percuma,” ucapnya.

Sementara itu Lartono Wisnu Hanowo perwakilan dari petani milenial mengungkapkan, kerja sama yang ia jalankan dengan Yayasan Bali Ndeso Berbakti ini berawal dari ketertarikannya pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai memberi manfaat besar bagi petani.

“Kami dengar ada program MBG, lalu bertemu Mas Aris (pemilik yayasan) yang menyampaikan gagasannya. Menurut kami ini menarik karena bukan hanya bermanfaat untuk siswa, tapi juga untuk petani karena ada penyerapan hasil pertanian yang besar,” ujar Wisnu.

Ia menyebutkan, kerja sama tersebut sejalan dengan semangat pemberdayaan petani melalui pembelian hasil panen dengan harga yang layak dan kepastian pembayaran. Wisnu mengelola lahan pertanian seluas sekitar 1,8 hektare, sebagian di antaranya menggunakan bangunan dengan naungan plastik.

Dalam program ini, Wisnu menyuplai berbagai jenis sayuran seperti wortel, tomat, timun, selada, sawi putih, hingga pakcoy. Untuk satu dapur MBG, kebutuhan sayuran rata-rata mencapai 1,5 hingga 1,8 kuintal per hari dengan jenis yang beragam.

Terkait alasan bergabung dengan MBG, Wisnu menegaskan adanya kepastian pasar menjadi faktor utama.

“Kalau dulu jual ke pasar atau pengepul, harganya fluktuatif dan kadang tidak dibayar. Di MBG, apa yang kami kirim dihargai layak dan pasti dibayar,” tegasnya.

Meski pendapatan harian tidak selalu tetap karena dipengaruhi cuaca dan harga pasar, Wisnu menilai sistem MBG jauh lebih menguntungkan.

“Kalau ke pasar, barang bisa tidak habis. Kalau ke MBG, jelas. Hari ini order wortel 65 kilo, timun 55 kilo, selada 30 kilo. Jadi pengambilannya pasti,” jelasnya.

Efendi Kurniawan yang juga memasok sayur sehat menegaskan kerja sama dengan dapur MBG jauh lebih menguntungkan dibanding menjual ke pasar. Menurutnya, sistem MBG memberikan jaminan pasar dengan jumlah pesanan yang pasti.

“Kalau ke pasar, dua kuintal belum tentu habis sehari. Di MBG, orderannya jelas—wortel sekian kilo, timun sekian kilo,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sayuran diambil langsung dari petani untuk kemudian dicuci dan disortir. Hasil panen dengan kualitas terbaik dipasok ke dapur MBG, sementara sayuran dengan kualitas di bawah standar baru dipasarkan secara konvensional.

“Kerja sama ini memberikan dampak positif bagi petani karena harga lebih baik dan pembayaran terjamin,” imbuhnya.

Ia mencontohkan harga selada air yang di tingkat tengkulak hanya Rp2.000–Rp3.000, namun bisa dibeli lebih tinggi melalui sistem ini.

“Kami tidak memotong mata rantai, justru kelebihan harga langsung masuk ke petani, sehingga langsung bisa dirasakan manfaatnya,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya