Tradisi Sekaten di Solo Peninggalan Jaman Kerajaan Demak

28 September 2022, 12:40 WIB

Hariankota.comTradisi Sekatenan Kraton Kasunanan Surakarta kembali digelar tahun ini untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi turun temurun sejak zaman Kerajaan Demak atau sekitar abad ke-15.

Tradisi Sekaten sendiri ditandai dengan ditabuhnya gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari milik Keraton Surakarta di bangsal selatan dan utara kawasan Masjid Agung Surakarta.

Gamelan Kiai Guntur Madu dibawa ke sebelah selatan, sedangkan Gamelan Kiai Guntur Sari dibawa ke sebelah utara. Gamelan berhenti ditabuh hanya saat waktu shalat saja. Khusus hari Jumat, gamelan baru mulai ditabuh setelah shalat Ashar.

Puncaknya, ada Grebeg Muludan dengan dua gunungan sebagai bentuk syukur pihak istana dengan keluarnya sejumlah gunungan untuk diperebutkan oleh masyarakat.

Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo melalui Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta Hadiningrat KPH Eddy Wirabhumi sampaikan jangan sampai tradisi yang sudah turun temurun ini hilang rohnya.

Upaya nguri-uri budaya turun temurun ini pihaknya berupaya untuk mengembalikan nuansanya Sekaten yang utamanya untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad atau kelahiran Nabi Muhammad.  

“Nanti, tangga 1 Oktober kami mengundang dari Muhammadiyah akan bicara soal agama dan kebudayaan Jawa,” jelasnya kepada Hariankota.com belum lama ini.

Sementara itu Ketua LDA, GKR Wandansari atau Gusti Moeng menambahkan nantinya juga akan digelar pertunjukan budaya dengan memberikan kesempatan bagi sanggar-sanggar tari di sekitar keraton untuk tampil.

“Selain itu juga ada stand khusus untuk kuliner dan jajanan khas Solo dari UMKM. Seperti sego liwet, aneka jenis jenang, cabuk rambak, aneka keleman (jajanan traditional) hingga ndog kamal (telur asin),” pungkasnya.

Berita Terkait