KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Ketika dua hari raya besar datang nyaris bersamaan, banyak daerah khawatir akan potensi gesekan. Namun tidak demikian dengan Kampung Jlono di lereng Gunung Lawu. Di tempat ini, perbedaan justru dirawat, bukan diperdebatkan.
Nyepi 2026 yang beririsan dengan momen Idulfitri menjadi ujian nyata bagi kehidupan sosial warga. Alih-alih memicu konflik, situasi tersebut justru memperlihatkan bagaimana toleransi bekerja secara alami di tengah masyarakat.
Puluhan keluarga dengan latar belakang agama berbeda hidup berdampingan tanpa sekat. Umat Hindu, Muslim, dan Kristen berbagi ruang yang sama dalam kehidupan sehari-hari.
Pemuka Pura Jonggol Shantika Loka, Gimanto, menegaskan bahwa harmoni di kampung tersebut sudah terbangun sejak lama.
“Perbedaan agama di sini bukan hal baru. Warga sudah paham bagaimana harus saling menghormati, jadi tidak pernah muncul konflik,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).

Momentum berdekatan antara Nyepi dan Idulfitri tahun ini, menurutnya, hanya mengubah pola aktivitas, bukan nilai kebersamaan.
“Memang tahun ini masing-masing lebih fokus pada ibadahnya karena waktunya berdekatan. Tapi dari sisi toleransi, tidak ada yang berubah,” katanya.
Saat Nyepi berlangsung, umat Hindu menjalankan ritual hening total. Seluruh aktivitas dihentikan sebagai bentuk refleksi spiritual.
Di sisi lain, umat Muslim juga menjalani momen penting menjelang Idulfitri dengan berbagai aktivitas ibadah.
Perbedaan ritme tersebut tidak menimbulkan benturan. Warga secara otomatis menyesuaikan diri.
Tokoh masyarakat setempat, Minto, mengatakan bahwa penyesuaian dilakukan tanpa perlu kesepakatan formal.
“Sudah jadi kebiasaan. Misalnya takbiran tetap ada, tapi volumenya diturunkan supaya tidak mengganggu yang sedang Nyepi,” jelasnya.
Ia menegaskan, sikap saling memahami menjadi kunci utama kerukunan di kampung tersebut.
“Tidak perlu aturan tertulis. Yang penting saling sadar dan saling menghormati,” tambahnya.
Dalam kondisi normal, warga lintas agama kerap saling membantu, termasuk menjaga keamanan saat perayaan keagamaan. Namun tahun ini, keterlibatan itu tidak maksimal karena waktunya berdekatan. Meski demikian, warga tidak mempermasalahkan hal tersebut.
“Semua punya kewajiban masing-masing. Justru di situ letak toleransinya, saling mengerti tanpa harus dipaksa,” kata Gimanto.
Sepanjang rangkaian perayaan, situasi kampung tetap aman dan kondusif. Tidak ada gesekan sosial yang berarti.
Harmoni justru terlihat dari hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari. Mulai dari menjaga sikap, menghormati waktu ibadah, hingga memberi ruang bagi orang lain menjalankan keyakinannya.
Minto menilai, toleransi yang terbangun di kampungnya bukan sesuatu yang dibuat-buat.
“Ini sudah berlangsung lama. Kami hidup berdampingan dari dulu, jadi tidak ada alasan untuk saling mempermasalahkan,” ujarnya.
Kampung Jlono kini menjadi potret nyata bagaimana keberagaman dapat dikelola dengan dewasa.
Pertemuan antara sunyi Nyepi dan semarak Idulfitri di kampung ini bukanlah benturan. Keduanya justru menghadirkan harmoni yang memperkuat persaudaraan.
Pesan yang disampaikan sederhana namun kuat: toleransi tidak cukup diucapkan, tetapi harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.***


Tidak ada komentar