Reuni Doreng Lawas Hidupkan Kembali Semangat Kader Pemuda Pancasila Angatan 1994

Reuni kader Pemuda Pancasila Karanganyar angkatan 1994 bertajuk “Doreng Lawas” menjadi ajang mengenang perjuangan, dari tekanan politik hingga swadaya membangun organisasi.

chat_bubble_outline 0
Reuni Pemuda Pancasila Angkatan Pertama

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Puluhan kader lama Pemuda Pancasila di Kabupaten Karanganyar kembali berkumpul dalam suasana penuh kehangatan dan nostalgia.

Reuni bertajuk “Doreng Lawas” ini bukan sekadar temu kangen, tetapi juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan yang pernah mereka bangun sejak awal berdirinya organisasi pada 1994.

Acara yang digelar di Cafe Dadap Serep, wilayah Manggeh Anyar, Kelurahan Lalung, berlangsung sederhana namun sarat makna. Meski tidak semua kader bisa hadir karena faktor usia, bahkan sebagian telah berpulang, nuansa kekeluargaan dan solidaritas tetap terasa kuat di antara para peserta.

Salah satu tokoh pelopor, RM Sasetyo Hartawan atau yang akrab disapa Theo, menegaskan bahwa reuni ini menjadi momentum penting untuk merajut kembali ikatan persaudaraan yang sempat terpisah oleh waktu.

“Yang hadir di sini adalah para perintis dan pejuang awal berdirinya organisasi di Karanganyar,” ujarnya.

Perjalanan Penuh Tantangan di Awal Berdiri

Theo panggilan akrabnya mengungkapkan, proses pembentukan Pemuda Pancasila di Karanganyar tidak berjalan mudah. Berbagai tekanan, baik dari unsur birokrasi maupun kekuatan politik tertentu, sempat menjadi hambatan serius bagi para kader saat itu.

Menurutnya, gagasan awal pembentukan organisasi muncul dari salah satu tokoh, namun mendapat penolakan dari pihak-pihak yang tidak menginginkan keberadaan Pemuda Pancasila di wilayah tersebut.

Untuk menguatkan legitimasi, para kader kemudian menggelar pertemuan besar di Gedung Pepabri yang dihadiri sekitar 100 tokoh masyarakat dan difasilitasi oleh salah satu tokoh penting dan disaksikan perwakilan dari tingkat provinsi.

“Hasil forum tersebut memberikan dukungan penuh kepada saya sebagai ketua. Dari situ organisasi mulai berdiri secara resmi di Karanganyar,” jelas Theo.

Selain menghadapi tekanan eksternal, para kader juga ditempa melalui proses internal yang tidak ringan. Agus Pramono Jati, atau dikenal dengan sapaan Bereng, mengenang kerasnya pendidikan dan latihan dasar (diksar) Komando Inti Mahatidana (Koti).

Ia bahkan mengaku pernah menjalani latihan ekstrem yang kini justru menjadi kenangan yang mengundang tawa.

“Dulu pernah lari tanpa baju saat diksar. Kalau diingat sekarang berat, tapi saat itu dijalani saja,” ungkapnya.

Bereng yang kala itu dipercaya sebagai Komandan Koti menuturkan, kerasnya latihan tidak menyurutkan semangat kader. Justru dari proses tersebut tumbuh loyalitas dan kecintaan terhadap organisasi.

Keterbatasan dana juga menjadi tantangan besar di masa awal. Para kader dituntut mandiri untuk menjaga keberlangsungan organisasi.

Berbagai cara dilakukan, mulai dari menjual atribut seperti seragam hingga menawarkan stiker bertuliskan “Pancasila Abadi” ke toko-toko di wilayah Jaten hingga Karanganyar.

Semua kebutuhan organisasi, mulai dari kegiatan hingga perlengkapan, dipenuhi secara swadaya. Kondisi ini justru memperkuat rasa memiliki dan solidaritas antaranggota.

Apresiasi untuk Generasi Penerus

Dalam kesempatan tersebut, Theo juga menyampaikan apresiasi kepada para pemimpin yang melanjutkan estafet organisasi setelah era pendiri. Ia menyebut sejumlah nama yang telah berkontribusi menjaga eksistensi Pemuda Pancasila di Karanganyar.

Menurutnya, keberlanjutan organisasi tidak lepas dari peran para ketua di periode berikutnya yang tetap menjaga nilai-nilai dasar perjuangan.

Pesan untuk Generasi Muda

Menutup acara, para kader senior mengingatkan pentingnya menjaga nilai persaudaraan dan kejujuran di tengah perubahan zaman.

Theo menekankan bahwa generasi muda jangan sampai kehilangan jati diri organisasi hanya karena perubahan orientasi yang cenderung materialistis.

“Jangan sampai nilai persaudaraan hilang. Itu yang dulu membuat kami kuat bertahan,” tegasnya.

Reuni “Doreng Lawas” menjadi bukti bahwa perjalanan panjang kader Pemuda Pancasila Karanganyar sejak 1994 tidaklah mudah. Dari tekanan politik, kerasnya diksar, hingga perjuangan swadaya, semua menjadi fondasi kuat bagi keberlangsungan organisasi hingga hari ini.

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya

Upacara Jumenengan PB XIV Lengkapi Tahapan Tradisi Keraton Surakarta

SOLO, HARIANKOTA.COM – Rangkaian adat jumenengan di Keraton Surakarta Hadiningrat bukan sekadar seremoni pergantian kepemimpinan. Prosesi yang dijalani selama dua hari menjadi bagian penting dalam melengkapi tahapan tradisi bertahtanya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIV Hangabehi. Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah […]

1 hari yang lalu