PTSI Dorong Ketahanan Pangan Keluarga Lewat Budidaya Cabai Organik di Karanganyar

PTSI mendorong ketahanan pangan keluarga melalui budidaya cabai organik dan pembangunan demplot yang melibatkan perempuan tani di Karanganyar.

chat_bubble_outline 0

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM— Lahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan mulai diubah menjadi sumber pangan keluarga. Perempuan Tani Sejahtera Indonesia (PTSI) menginisiasi program budidaya cabai organik melalui pembangunan demplot di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

Program tersebut menjadi langkah awal PTSI dalam mendorong keterlibatan perempuan, khususnya ibu-ibu tani, untuk mengembangkan pangan secara mandiri sekaligus mengoptimalkan lahan di sekitar rumah.

Ketua PTSI Annaba Alfitriah mengatakan peluncuran program di Desa Dayu merupakan tahap awal sebelum kegiatan serupa diperluas ke desa-desa lainnya.

“Alhamdulillah hari ini kita telah launching perdana kegiatan PTSI di Gondangrejo, Desa Dayu. Insya Allah setelah ini tidak hanya satu desa saja yang akan diberikan program, tetapi akan kami sebarkan ke 177 desa di Karanganyar,” ujar Annaba, Senin (24/8/2026).

Dalam pelaksanaannya, masyarakat mendapat pelatihan budidaya cabai organik, pembuatan demplot, hingga pendampingan selama proses penanaman. Pada tahap awal, masing-masing peserta memperoleh lima bibit cabai.

Annaba menegaskan, program tersebut tidak hanya berorientasi pada kemampuan bercocok tanam, tetapi juga diarahkan untuk membangun kemandirian pangan dari lingkungan keluarga.

“Tujuannya untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Kami ingin mereka mandiri secara pangan dan tidak hanya mengandalkan pemerintah, APBD, maupun kepala keluarga. Semua bisa bekerja sama dalam program kebaikan ini,” katanya.

Desa Dayu dipilih sebagai lokasi awal karena memiliki karakter wilayah yang relatif kering. Kondisi tersebut justru menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan pola pertanian yang dapat dilakukan masyarakat secara berkelanjutan.

Kepala Desa Dayu Agus Susilo menyambut baik program tersebut. Ia menyebut pembangunan demplot di Dukuh Pucung telah berlangsung hampir satu bulan dengan melibatkan ibu-ibu dalam proses penanaman dan pemeliharaan tanaman.

Demplot seluas sekitar 250 meter persegi itu tidak hanya digunakan untuk menanam cabai. Sejumlah komoditas lain seperti tomat turut dikembangkan. Selain tanaman hortikultura, lokasi tersebut juga dimanfaatkan untuk budidaya lele dan ayam.

“Demplotnya sekitar 250 meter. Tanamannya baru sekitar satu minggu sehingga masih dalam tahap pertumbuhan. Tomatnya sudah mulai tinggi, sementara tanaman lainnya masih berkembang,” kata Agus.

Ia berharap demplot tersebut tidak berhenti sebagai proyek percontohan di satu wilayah, tetapi dapat ditiru oleh dusun lain di Desa Dayu.

“Semoga nanti bisa berkembang, tidak hanya di Pucung saja. Kami berharap seluruh dusun di Desa Dayu bisa mengadopsi demplot ini,” ujarnya.

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar Feriana Dwi Kurniawati menilai gerakan PTSI sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan daerah.

Mewakili Pemkab Karanganyar, Feriana mengapresiasi keterlibatan PTSI dalam menggerakkan masyarakat melalui penanaman dan pengembangan demplot cabai.

“Kami sangat mengapresiasi PTSI Pusat dan PTSI Kabupaten Karanganyar yang telah mengadakan gerakan menanam demplot cabai untuk ketahanan pangan. Kita memang tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus bersama-sama membangun Kabupaten Karanganyar, khususnya dalam ketahanan pangan dan mendukung swasembada pangan nasional,” ujarnya.

Dinas Pertanian Karanganyar juga membuka peluang dukungan berupa bibit buah bagi masyarakat. Feriana mengatakan, melalui APBD Perubahan terdapat program penyediaan bibit buah yang dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga.

“Kalau dibutuhkan bibit buah, nanti di APBD Perubahan ada bibit buah-buahan. Ini juga bisa mendukung ketersediaan pangan keluarga, termasuk pemenuhan vitamin dan kebutuhan gizi keluarga. Kami siap membagikan bibit tersebut,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tani Merdeka Jawa Tengah Wawan Pramono mengingatkan agar program tersebut tidak berhenti setelah peluncuran dan pemberian bibit.

Menurutnya, keberlanjutan program perlu dijaga melalui pendampingan, pelatihan, serta evaluasi berkala sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

“Jangan hanya dikasih bantuan bibit cabai, kemudian dibiarkan. Harus ada kesinambungan, pendampingan, pelatihan, dan laporan setiap tiga bulan sekali. Kalau nanti bagus, kita akan support lebih luas lagi,” pesannya.

Dengan adanya demplot tersebut, program PTSI diharapkan mampu menjadi model pemberdayaan perempuan sekaligus pengembangan ketahanan pangan berbasis keluarga yang dapat direplikasi di desa-desa lain di Karanganyar.

 

 

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya