JAKARTA,HARIANKOTA.COM – Di tengah maraknya tren gaya hidup sehat dan pola makan baru, salah satu metode yang belakangan banyak diperbincangkan di media sosial adalah diet OMAD (One Meal A Day). Sesuai namanya, diet ini menekankan pada konsumsi makanan hanya sekali dalam sehari, dan sisanya adalah waktu puasa.
Diet OMAD digemari karena dianggap praktis, efisien menurunkan berat badan, serta selaras dengan gaya hidup sibuk masyarakat modern. Namun, di balik popularitasnya, metode ini menuai perdebatan di kalangan ahli gizi.
Apa Itu Diet OMAD?
OMAD merupakan bagian dari metode intermittent fasting (puasa berselang), tepatnya versi ekstrem dari 23:1 — yaitu 23 jam puasa dan 1 jam makan.
Dalam praktiknya, pelaku OMAD hanya makan satu kali dalam rentang waktu 1 jam, biasanya saat sore atau malam hari. Selama 23 jam lainnya, hanya diperbolehkan minum air putih, teh tanpa gula, atau kopi hitam tanpa tambahan kalori.
Contoh pola OMAD:
• Pukul 18:00–19:00 → makan besar
• Pukul 19:00–18:00 esoknya → puasa
Mengapa Diet OMAD Menjadi Tren?
1. Simpel dan Tidak Ribet
Tidak perlu menghitung kalori setiap waktu makan atau membawa bekal berkali-kali. Cukup satu kali makan, selesai.
2. Klaim Penurunan Berat Badan Cepat
Banyak pelaku OMAD mengaku turun 5–10 kg dalam sebulan, tergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi dan aktivitas fisik.
3. Didukung oleh Tokoh Populer
Beberapa tokoh terkenal seperti Jack Dorsey (mantan CEO Twitter) dan pelatih kebugaran internasional juga pernah menyatakan menerapkan pola OMAD.
Manfaat OMAD Menurut Beberapa Studi
Menurut studi dari Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, intermittent fasting termasuk OMAD dapat:
• Meningkatkan sensitivitas insulin
• Menurunkan kadar kolesterol dan tekanan darah
• Merangsang proses autofagi (pembersihan sel rusak)
• Membantu metabolisme lemak
Namun, efek ini sangat bergantung pada kualitas makanan yang dikonsumsi saat waktu makan. Jika satu kali makan diisi dengan makanan tinggi gula dan lemak jenuh, maka manfaatnya justru hilang.
Risiko dan Efek Samping Diet OMAD
Ahli gizi memperingatkan bahwa OMAD tidak cocok untuk semua orang, terutama:
• Orang dengan riwayat gangguan makan
• Penderita diabetes, maag kronis, atau hipoglikemia
• Ibu hamil atau menyusui
• Remaja yang masih dalam masa pertumbuhan
Efek samping yang sering muncul:
• Lemas dan tidak fokus
• Sakit kepala
• Sembelit
• Gangguan tidur
• Overeating saat waktu makan
Tips Aman Jika Ingin Coba OMAD
1. Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi sebelum memulai.
2. Pastikan satu kali makan mencakup karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, dan serat.
3. Hindari makanan ultra-proses, gorengan, dan gula berlebih.
4. Tetap minum cukup air sepanjang hari.
5. Jangan langsung lompat ke OMAD. Coba puasa 14:10 atau 16:8 terlebih dahulu untuk adaptasi.
6. Dengarkan tubuh—jika merasa terlalu lemah, hentikan.
Apakah OMAD Efektif untuk Jangka Panjang?
OMAD bisa menjadi metode penurunan berat badan jangka pendek. Namun, untuk jangka panjang, ketahanan dan keberlanjutan gaya hidup sehat jauh lebih penting daripada mengejar hasil instan.
Ahli gizi menyarankan untuk fokus pada pola makan seimbang dan fleksibel, dibanding metode ekstrem yang sulit dijaga secara konsisten.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.