Mangkunegaran Ajak Masyarakat Refleksi Diri Lewat Tirakat dan Kirab Pusaka Malam 1 Sura

Ribuan warga mengikuti Kirab Pusaka Dalem dan tapa bisu di Pura Mangkunegaran dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa 1 Sura Be 1960 melalui tirakat “Mulih Pulih”.

chat_bubble_outline 0

SOLO, HARIANKOTA.COM  – Pergantian Tahun Baru Jawa 1 Sura Be 1960 di Pura Mangkunegaran tidak hanya diisi dengan prosesi budaya, tetapi juga menjadi momentum perenungan dan pemulihan diri. Melalui rangkaian tirakat bertajuk “Mulih Pulih”, masyarakat diajak menepi sejenak dari hiruk pikuk kehidupan untuk kembali mengenali diri dan menata langkah ke depan.

Salah satu agenda utama dalam peringatan malam 1 Sura adalah Kirab Pusaka Dalem yang digelar dalam suasana khidmat melalui tradisi tapa bisu. Ribuan masyarakat memadati kawasan Pura Mangkunegaran untuk mengikuti sekaligus menyaksikan prosesi sakral yang telah menjadi tradisi turun-temurun tersebut.

Kirab dilakukan dengan mengarak pusaka milik Pura Mangkunegaran mengelilingi tembok luar kawasan istana. Seluruh peserta menjalani laku tapa bisu dengan berjalan tanpa berbicara sebagai simbol pengendalian diri dan sarana refleksi atas perjalanan hidup selama setahun terakhir.

Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, bersama Ketua TP PKK Kota Surakarta, Venessa Respati, turut mengikuti kirab dan berjalan bersama ribuan peserta dalam suasana penuh keheningan.

Usai mengikuti prosesi, Respati menegaskan pentingnya menjaga tradisi yang diwariskan para leluhur sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.

“Ini merupakan peninggalan para leluhur yang harus terus kita lestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya yang dimiliki dan diwariskan kepada generasi penerus,” ujar Respati.

Ketua Panitia 1 Sura Be 1960, G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo, menjelaskan bahwa peringatan 1 Sura tahun ini sengaja dirancang sebagai laku tirakat selama 24 jam, bukan sekadar perayaan budaya.

“Satu (1) Sura bukan tontonan, bukan pula festival. Ini adalah undangan untuk mulih (hadir), melepaskan, dan menyambut. Tahun Be menjadi waktu yang tepat untuk menyusun ulang diri dan menemukan pulih-nya,” katanya.

Tepat saat pergantian tahun, kegiatan dilanjutkan dengan semedi di Pendhapa Ageng dan Dalem Ageng sebagai puncak tirakat malam 1 Sura. Rangkaian acara kemudian ditutup pada Rabu (17/6/2026) dengan meditasi, Laku Catur Sembah, penulisan kartu harapan, serta sesi Larasati.

Melalui tiga fase perjalanan waktu, yakni Atita (masa lalu), Atiki (masa kini), dan Anagata (masa depan), Mangkunegaran mengajak masyarakat memaknai Tahun Baru Jawa sebagai kesempatan untuk berefleksi, memperbaiki diri, dan menyongsong masa depan dengan kesadaran yang lebih utuh.

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya