Kisah Heroik Eka dan Mira: Dari Tragedi Lahirnya Ikon Bus Jawa Timur yang Melegenda

Di balik gemerlap persaingan industri transportasi bus di Jawa Timur, tersembunyi sebuah kisah inspiratif tentang bangkit dari keterpurukan dan melahirkan dua ikon legendaris: Eka dan Mira

chat_bubble_outline 0

MOJOKERTO, HARIANKOTA.COM – Di balik gemerlap persaingan industri transportasi bus di Jawa Timur, tersembunyi sebuah kisah inspiratif tentang bangkit dari keterpurukan dan melahirkan dua ikon legendaris: Eka dan Mira.

Berawal dari toko kain sederhana “Flores” di Mojokerto, seorang visioner bernama Fendi Haryanto memberanikan diri merambah dunia transportasi pada tahun 1971. Namun, badai ujian tak terduga menerjang di tahun 1981.

Sebuah tragedi kecelakaan maut yang melibatkan bus Flores di perlintasan kereta api Purwosari, Solo, merenggut banyak nyawa dan mencoreng nama baik perusahaan.

Pukulan berat ini bahkan berujung pada larangan trayek ke Jawa Tengah bagi Flores. Di tengah masa sulit, mental baja Fendi Haryanto tak luntur. Ia melihat ini bukan sebagai akhir, melainkan awal dari babak baru.

Dengan penuh harapan dan mengambil nama kedua buah hatinya, lahirlah PT Eka Mira Prima Sentosa. Eka dan Mira hadir sebagai jawaban atas kekhawatiran penumpang pasca-tragedi.

Strategi pembagian jadwal keberangkatan yang cermat – Eka melayani rute Surabaya pada pagi hingga sore, dan Mira melanjutkan pada sore hingga pagi – menjadi angin segar bagi para pelancong. Sementara itu, Flores tetap setia melayani rute Surabaya–Ponorogo.

Perjalanan Eka dan Mira tak selalu mulus. Tahun 1990 kembali diwarnai duka ketika kecelakaan merenggut nyawa seorang pengemudi.

Namun, tragedi ini justru semakin memperkuat tekad perusahaan untuk mengutamakan keselamatan dan pelayanan terbaik.

Tak berhenti berinovasi, Fendi Haryanto kembali meluncurkan bus Ita pada tahun 1993, mengambil nama sang istri. Ita diharapkan menjadi penerus Flores di jalur Surabaya–Ponorogo.

Sayangnya, krisis moneter di akhir 1990-an memaksa Ita untuk mengakhiri operasinya, dan trayeknya diteruskan oleh PO Restu.

Titik balik penting terjadi pada tahun 2007. PT Eka Mira Prima Sentosa melakukan restrukturisasi armada yang cerdas.

Layanan kelas ekonomi bus Eka diintegrasikan dengan Mira, mempermudah konsumen membedakan antara layanan Patas (Eka) dan Ekonomi (Mira).

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya

Polisi Jadwalkan Pemeriksaan Terlapor dalam Kasus Dugaan Pelecehan SPG di Solo

SOLO, HARIANKOTA.COM  – Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap seorang Sales Promotion Girl (SPG) di Kota Solo memasuki babak baru. Setelah memeriksa sejumlah saksi, Polresta Surakarta kini menjadwalkan pemeriksaan terhadap pihak yang dilaporkan dalam kasus tersebut. Perkara dugaan pelecehan SPG di Solo ini sebelumnya menjadi perhatian publik setelah korban melaporkan tindakan tidak pantas yang diduga terjadi […]

2 hari yang lalu