KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM– Angin sejuk, kabut dan rimbunya hutan pinus dan cemara yang dulu menjadi daya tarik kawasan lereng Gunung Lawu kini terasa berbeda.
Bukan lagi riuh oleh wisatawan, sejumlah destinasi di Karanganyar justru tampak lebih lengang. Tren ini menandai penurunan minat kunjungan yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Data terbaru menunjukkan, jumlah wisatawan domestik yang datang hanya sekitar 72.042 orang, sementara wisatawan mancanegara tercatat 122 kunjungan.
Angka ini membuat posisi Karanganyar merosot ke peringkat 25 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah—tertinggal dari sejumlah daerah lain seperti Kudus, Brebes, hingga Magelang.
Hal ini memperlihatkan bahwa tantangan utama Karanganyar bukan sekadar potensi, melainkan bagaimana destinasi tersebut dikelola.
Momentum libur Lebaran 2026 yang biasanya menjadi puncak kunjungan pun belum mampu mendongkrak angka wisata. Dalam rentang H-7 hingga H+7, tercatat 70.963 wisatawan berkunjung—turun drastis dari 113.252 orang pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan sekitar 37,3 persen ini turut menggeser posisi Karanganyar ke peringkat 11 di bawah Demak, Grobogan, dan Jepara.
Di lapangan, perubahan suasana terasa nyata. Jalur menuju kawasan wisata yang biasanya padat saat libur panjang kini relatif lancar. Kondisi ini menjadi sinyal kuat berkurangnya animo wisatawan untuk berkunjung.
Kepala Dinas Pariwisata Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, mengakui adanya persoalan mendasar, baik dari sisi internal pemerintah maupun pelaku usaha wisata. Ia menilai pendekatan pengelolaan selama ini masih terlalu kaku.
“Pariwisata itu bukan sekadar administrasi. Harus ada sentuhan pengalaman yang membuat orang ingin kembali,” ujarnya.
Sejak dilantik oleh Bupati Karanganyar, Rober Christanto, Yopi mulai mendorong perubahan dengan membentuk empat kelompok kerja: spot tourism, eco-culture tourism, wellness tourism, dan enthusiasm.
“Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman wisata yang lebih hidup dan berkesan,” ucap Yopi, Selasa (7/4/2026).
Namun tantangan terbesar justru berada di kawasan unggulan seperti Tawangmangu dan Ngargoyoso. Kedua wilayah ini dinilai mulai kehilangan daya tarik akibat minimnya penataan dan koordinasi.
Suasana alami yang dulu menjadi magnet—kabut tipis, udara dingin, dan deretan pinus—kini dianggap tidak lagi terasa optimal.
“Di sisi lain, persoalan klasik seperti parkir semrawut dan aktivitas pedagang yang tidak tertata turut memperburuk pengalaman wisata,” ungkap Yopi.
Kemacetan juga menjadi hambatan serius. Titik-titik seperti Karangpandan hingga jalur menuju Tawangmangu kerap mengalami kepadatan, terutama saat akhir pekan.
Waktu tempuh dari Solo yang bisa mencapai dua jam membuat wisatawan berpikir ulang untuk berkunjung.
Pemerintah daerah pun mulai menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari rekayasa lalu lintas hingga pembukaan jalur alternatif seperti Mojogedang–Plangsalan–Ngarjosari dan Nrawuh–Matesih–Mengadeg.
“Selain itu, penataan kawasan wisata, pengelolaan parkir, serta kolaborasi antar pelaku usaha menjadi fokus pembenahan,” lanjutnya.
Tak hanya itu, penguatan event wisata juga dinilai penting untuk kembali menarik minat pengunjung. Aktivitas yang rutin dan kreatif diharapkan mampu menghidupkan kembali kawasan wisata yang mulai redup.
Sebagai catatan, Karanganyar sempat menjadi destinasi unggulan di wilayah Solo Raya pada 2024. Namun kini, posisinya merosot tajam. Kondisi ini menjadi peringatan bahwa tanpa pembenahan menyeluruh dan kerja sama lintas sektor, pesona Karanganyar bisa semakin tertinggal.
Jika tak segera berbenah, bukan tidak mungkin kesejukan lereng Lawu hanya tinggal cerita, tanpa lagi keramaian wisatawan yang dulu menjadi tamu istimewa.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.