Grojogan Sewu Kian Sepi, Wisatawan Keluhkan Tiket dan Minim Inovasi

Kunjungan ke Grojogan Sewu Karanganyar menurun drastis. Tiket dinilai mahal dan aturan kawasan konservasi membatasi inovasi wisata.

chat_bubble_outline 0
Kepala Disparpora Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM–  Aktivitas wisata di Grojogan Sewu kini tak lagi seramai dulu. Pada hari biasa, jumlah pengunjung yang datang ke destinasi andalan Karanganyar itu dilaporkan merosot tajam, bahkan kerap tidak mencapai 100 orang per hari.

Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena Grojogan Sewu selama ini dikenal sebagai salah satu ikon wisata unggulan.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora)Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, menyebut penurunan jumlah wisatawan terlihat jelas setelah dilakukan pemantauan langsung di lapangan.

Menurutnya, tren kunjungan memang masih meningkat saat akhir pekan, namun belum mampu menutupi sepinya wisatawan di hari biasa.

“Weekend bisa mencapai sekitar 500 orang, tapi hari biasa masih sangat rendah,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Salah satu penyebab utama adalah status kawasan yang berada di bawah pengelolaan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia sebagai hutan konservasi.

Aturan yang berlaku membuat pengelola tidak leluasa menghadirkan konsep wisata baru. Aktivitas seperti camping, glamping, maupun pengembangan atraksi modern tidak diperbolehkan.

Akibatnya, Grojogan Sewu dinilai sulit bersaing dengan destinasi lain yang lebih fleksibel dalam menghadirkan pengalaman wisata kekinian.

Selain regulasi, harga tiket masuk juga menjadi sorotan. Pengunjung dikenakan tarif sekitar Rp27.000, dengan sebagian besar masuk sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Sekitar Rp15.000 dari tiket tersebut disetorkan ke negara, sementara pengelola juga masih menanggung biaya sewa lahan. Kondisi ini membuat harga tiket relatif sulit ditekan.

“Struktur biaya jadi cukup berat, sehingga kurang kompetitif dibanding tempat lain,” jelas Yopi.

Faktor lain yang memengaruhi adalah masa kontrak pengelolaan yang akan berakhir pada 2029. Situasi ini membuat pengelola cenderung berhitung dalam melakukan investasi besar.

“Untuk mengatasi penurunan kunjungan, Pemerintah Kabupaten Karanganyar mulai menyiapkan berbagai langkah,” terang Yopi.

Sejumlah agenda seperti event olahraga, pertunjukan seni, hingga kolaborasi dengan kreator konten digital akan digelar untuk menarik minat wisatawan, khususnya kalangan muda milenial

“Kami akan dorong kegiatan yang bisa meningkatkan eksposur dan menarik pengunjung baru,” katanya.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga mendorong evaluasi kebijakan terkait pengelolaan kawasan konservasi dan skema PNBP agar lebih adaptif terhadap perkembangan sektor pariwisata.

“Hasil evaluasi akan kami sampaikan ke pemerintah pusat. Harapannya ada solusi yang tetap menjaga konservasi, tapi juga membuka ruang pengembangan,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya