Delapan Titik Pesisir Buleleng, Bali, Alami Abrasi Parah

Abrasi pantai menggerus pesisir utara Buleleng, Bali. Delapan titik masuk kategori terparah, dengan kerusakan terbesar terjadi di Pantai Banyuning

chat_bubble_outline 0
Abrasi Buleleng (Foto: HARIANKOTA)

BULELENG, HARIANKOTA.COM – Pesisir utara Kabupaten Buleleng terus tergerus abrasi. Hantaman gelombang laut yang terjadi dari waktu ke waktu kini meninggalkan kerusakan serius di sejumlah titik pantai, memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan kawasan pesisir di wilayah tersebut.

Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) mencatat delapan lokasi abrasi dengan tingkat kerusakan paling berat, tersebar dari wilayah barat hingga timur Buleleng.

Abrasi tidak hanya terjadi di satu kawasan tertentu, melainkan hampir menyentuh seluruh bentang pesisir utara.

Kepala Dinas PUTR Buleleng, I Putu Adiptha Eka Putra, mengatakan abrasi di wilayah utara Buleleng sudah menjadi persoalan berulang yang terus muncul setiap tahun.

“Kalau dilihat secara menyeluruh, abrasi di pesisir utara Buleleng ini cukup parah. Hampir semua kawasan pesisir mengalami dampak,” ujarnya pada wartawan, Minggu (1/2/2026).

Data Dinas PUTR menunjukkan, garis pantai Buleleng membentang sepanjang 157,05 kilometer. Dari panjang tersebut, delapan titik dinyatakan sebagai kawasan dengan abrasi terparah, dengan total volume kerusakan diperkirakan mencapai 2.090 meter kubik.

Lokasi rawan abrasi itu berada di Pantai Segara Rupek dan Pantai Gerokgak (Kecamatan Gerokgak), Pantai Kubutambahan (Kecamatan Kubutambahan), Pantai Banyuning, Kampung Anyar, dan Kampung Bugis (Kecamatan Buleleng), serta Pantai Desa Giri Emas (Kecamatan Sawan).

Di antara seluruh titik tersebut, Pantai Banyuning tercatat sebagai kawasan dengan tingkat abrasi paling besar.

“Di Banyuning, abrasi yang terjadi mencapai sekitar 500 meter kubik. Ini yang paling berat dibanding lokasi lainnya,” kata Adiptha.

Meski pola abrasi tidak jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, kondisi pesisir utara Buleleng dinilai lebih rentan dibanding wilayah pesisir lain di Bali.

Faktor karakter gelombang dan bentang pantai menjadi salah satu penyebab utama tingginya tingkat abrasi.

“Trennya relatif sama dengan tahun lalu, tetapi untuk wilayah utara Buleleng, dampaknya memang lebih berat,” ujar Adiptha.

Seluruh data abrasi tersebut telah dihimpun dan disampaikan sebagai dasar pengajuan penanganan ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali–Penida.

Sementara itu, Dinas PUTR Buleleng terus melakukan pemetaan titik-titik rawan abrasi untuk menentukan prioritas penanganan.

Menurut Adiptha, pengamanan pantai dengan pasangan batu armor masih menjadi pilihan paling efektif untuk meredam laju abrasi dalam jangka panjang.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya