Aksi Seni Tanggap Ing Sasmita Warnai Penolakan Proyek Geotermal di Lereng Gunung Lawu

Jagalawu menggelar aksi seni di Alun-alun Karanganyar untuk menolak proyek geotermal Gunung Lawu. Lewat “Refleksi Lawu Lestari”, mereka mendorong transparansi dan dialog terbuka dengan masyarakat.

chat_bubble_outline 0
advokasi seni bertema “Refleksi Lawu Lestari”

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Eksponen Jagalawu kembali menegaskan penolakan terhadap rencana proyek geotermal di lereng Gunung Lawu melalui aksi bertajuk “Tanggap Ing Sasmito: Refleksi Lawu Lestari” yang digelar di Alun-alun Karanganyar, Minggu (1/3/2026) malam.

Aksi tersebut dikemas dalam bentuk advokasi seni yang berlangsung sederhana di bawah pepohonan alun-alun depan Kantor Bupati Karanganyar.

Tanpa panggung besar dan pengeras suara berlebihan, sejumlah seniman menampilkan teatrikal, pembacaan puisi, serta tembang Jawa di tengah aktivitas warga.

Konsep pertunjukan dibuat terbuka dan dialogis, berbeda dari aksi demonstrasi pada umumnya. Bentangan spanduk putih yang dibubuhi tanda tangan menjadi simbol sikap penolakan terhadap proyek panas bumi di kawasan Jenawi yang ada di  lereng Lawu.

Salah satu eksponen Jagalawu, Bli Misbahudin, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan medium advokasi kebudayaan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat.

“Acara ini menjadi penanda secara kebudayaan atas situasi tanah dan alam di sekitar Jenawi dan Ngargoyoso. Kami tidak ingin menunjuk siapa yang salah, tetapi mengajak semua pihak meninjau kembali regulasi dan posisinya masing-masing,” ujar Bli Misbahudin.

Menurutnya, pendekatan seni dipilih agar pesan yang disampaikan tidak memicu ketegangan sosial. Melalui sastra dan pertunjukan budaya, isu geotermal diharapkan dapat dibawa ke ruang dialog yang lebih terbuka, inklusif, dan konstruktif.

Ia juga menilai hingga kini masyarakat masih menunggu kepastian terkait kelanjutan proyek geotermal Gunung Lawu. Ketidakjelasan informasi dinilai berpotensi menimbulkan keresahan di tengah warga terdampak.

“Kalau proyek ini berjalan, sampaikan secara terbuka. Kalau tidak jadi, juga harus dijelaskan. Jangan dibiarkan menggantung. Masyarakat berhak tahu,” tegasnya.

Bli menambahkan, Jagalawu berkomitmen tetap berada di tengah masyarakat untuk mencegah potensi perpecahan. Ia berharap pemerintah membuka ruang rembuk bersama warga guna membahas dampak lingkungan maupun sosial secara menyeluruh.

“Jangan sampai masyarakat terbelah. Kalau ada dialog, kami siap. Yang menolak jangan dibenci, tetapi diajak duduk bersama,” katanya.

Dalam aksi tersebut, Jagalawu menggandeng berbagai elemen, mulai dari seniman lokal, aktivis lingkungan, relawan SAR, hingga jejaring seniman dari Taman Budaya Jawa Tengah.

Seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan secara gotong royong dengan pola kolektif kolegial tanpa struktur kepemimpinan formal.
Bli Misbahudin menegaskan sikap kelompoknya terhadap proyek panas bumi di lereng Gunung Lawu sudah jelas.

“Terkait geotermal, sikap kami menolak,” tandasnya.

Melalui advokasi seni bertema “Refleksi Lawu Lestari”, Jagalawu berharap isu lingkungan di kawasan Gunung Lawu dapat dibahas secara transparan dan melibatkan masyarakat sebagai pihak yang terdampak langsung.

“Sehingga keputusan yang diambil benar-benar mempertimbangkan keberlanjutan alam dan harmoni sosial di Karanganyar,” pungkasnya.

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya

Upacara Jumenengan PB XIV Lengkapi Tahapan Tradisi Keraton Surakarta

SOLO, HARIANKOTA.COM – Rangkaian adat jumenengan di Keraton Surakarta Hadiningrat bukan sekadar seremoni pergantian kepemimpinan. Prosesi yang dijalani selama dua hari menjadi bagian penting dalam melengkapi tahapan tradisi bertahtanya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIV Hangabehi. Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah […]

1 hari yang lalu