KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Ancaman kekeringan mulai diantisipasi Pemerintah Kabupaten Karanganyar menjelang puncak musim kemarau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar telah mengidentifikasi 18 desa yang tersebar di 11 kecamatan sebagai wilayah rawan mengalami krisis air bersih.
Dari hasil pemetaan tersebut, sebanyak 5.212 jiwa atau 1.614 kepala keluarga (KK) menjadi sasaran prioritas apabila distribusi bantuan air bersih harus dilakukan selama musim kemarau.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Sugiharjo, mengatakan langkah pemetaan dilakukan lebih awal agar penanganan dapat berlangsung cepat ketika masyarakat mulai kesulitan memperoleh air bersih.
“BPBD Kabupaten Karanganyar sudah melakukan pemetaan daerah atau desa dan kecamatan yang berpotensi mendapatkan bantuan dropping air bersih. Ada 11 kecamatan, 18 desa dengan jumlah 5.212 jiwa atau 1.614 kepala keluarga,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Sejauh ini, kata Sugiharjo, kondisi kekeringan belum terjadi secara luas. Bantuan air bersih yang sempat dikirim ke Desa Wonorejo, Kecamatan Gondangrejo, dan Kecamatan Mojogedang dipicu kerusakan pompa air milik warga, sehingga pasokan air bersih sempat terganggu.
BPBD mengirimkan dua truk tangki atau sekitar 10.000 liter air ke Desa Wonorejo pada pekan lalu. Sementara bantuan di Mojogedang telah disalurkan lebih dulu pada awal Juli. Setelah pompa air diperbaiki, kebutuhan air masyarakat di kedua wilayah tersebut kembali normal.
“Setelah kami dropping 10.000 liter air bersih dan pompa selesai diperbaiki, sampai sekarang tidak ada permintaan lagi. Artinya pasokan air sudah kembali normal,” jelasnya.
Mengantisipasi lonjakan kebutuhan saat kemarau mencapai puncaknya, BPBD telah menyiapkan skema kerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Perumda Air Minum (PDAM).
Kolaborasi tersebut akan dijalankan apabila permintaan bantuan air bersih melebihi kapasitas BPBD.
“Kalau nanti permintaan dropping air bersih meningkat dan BPBD kewalahan, kami akan berkoordinasi dengan PMI maupun PDAM agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” katanya.
Berdasarkan prakiraan BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada awal Agustus 2026. Meski demikian, BPBD tetap memantau perkembangan cuaca karena anomali iklim masih berpotensi memengaruhi durasi musim kemarau.
“Kami berharap pertengahan September kondisi sudah mulai membaik dan musim kemarau tidak sampai berlangsung hingga Oktober. Namun kami tetap mengikuti perkembangan informasi dari BMKG,” pungkas Sugiharjo.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.