Bocah Boyolali Bikin NASA Angkat Topi, Ibrahim Al Abrar Diganjar Penghargaan usai Temukan Celah Keamanan

Ibrahim Al Abrar, siswa SD asal Boyolali, menerima penghargaan NASA setelah berhasil menemukan celah keamanan pada salah satu situs resmi lembaga antariksa Amerika Serikat.

chat_bubble_outline 0
Ibrahim Al Abrar, siswa SD asal Boyolali, menunjukkan surat penghargaan dari NASA setelah berhasil menemukan celah keamanan pada salah satu situs resmi lembaga antariksa tersebut. Foto: Istimewa.

BOYOLALI, HARIANKOTA.COM – Ibrahim Al Abrar mungkin baru berusia 11 tahun. Namun, kemampuannya mengungkap celah keamanan di salah satu situs resmi Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) membuat bocah asal Dukuh Genengsari, Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, Boyolali, itu diganjar Letter of Recognition (LOR).

Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa ketekunan belajar coding dan keamanan siber secara otodidak mampu mengantarkannya mendapat pengakuan dari salah satu lembaga antariksa paling bergengsi di dunia.

Siswa kelas 6 SD Negeri Geneng 3 itu menerima surat penghargaan resmi dari NASA pada 9 Juli 2026 setelah laporan mengenai kerentanan yang ditemukannya dinyatakan valid melalui Vulnerability Disclosure Program (VDP).

Temuan Ibrahim membantu mengidentifikasi potensi celah yang dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan siber apabila tidak segera ditangani.
Kerentanan yang ditemukan Ibrahim merupakan jenis broken link hijacking, yakni celah yang memungkinkan tautan pada sebuah situs dialihkan ke halaman lain yang telah dikuasai pihak tidak bertanggung jawab.

Jika dibiarkan, celah tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai media phishing dengan mengatasnamakan NASA untuk menipu pengguna internet.

Di balik pencapaian tersebut, tersimpan proses belajar yang tidak singkat. Ibrahim mulai mengenal dunia pemrograman sejak duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar melalui berbagai video pembelajaran di YouTube.

Ketertarikannya terhadap keamanan siber muncul setelah membaca kisah seorang pelajar Indonesia yang pernah menerima penghargaan serupa dari NASA.

Sejak awal 2026, Ibrahim mulai mendalami dunia cyber security secara serius. Ia kemudian bergabung dengan Bugcrowd, platform yang digunakan NASA untuk menerima laporan kerentanan keamanan dari para peneliti di berbagai negara.

Perjalanannya tidak selalu mulus. Dua laporan pertama yang dikirimkan sempat ditolak karena dianggap belum memenuhi kriteria maupun telah dilaporkan pihak lain.

Namun kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Ibrahim terus mempelajari teknik pencarian kerentanan hingga akhirnya laporan ketiganya dinyatakan valid oleh tim keamanan NASA.

“Saya senang. Cita-cita saya ingin menjadi profesional di bidang cyber security. Saya ingin tetap bekerja dari Indonesia, tetapi menangani pekerjaan secara daring untuk perusahaan luar negeri,” ujar Ibrahim.

Ayah Ibrahim, Aminudin Salas, mengaku bangga melihat kegigihan putranya yang tidak menyerah meski berkali-kali menghadapi penolakan.

“Alhamdulillah akhirnya diterima. Sebelumnya sudah beberapa kali gagal, tetapi Ibrahim terus mencoba sampai berhasil,” kata Aminudin.

Menurut Aminudin, kemampuan coding dan keamanan siber yang dimiliki putranya diperoleh hampir sepenuhnya secara otodidak.

Meski sehari-hari mengajar Program Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMKN Kemusu, ia mengaku hanya mampu memberikan dukungan berupa fasilitas belajar.

Awalnya Ibrahim hanya menggunakan telepon genggam untuk belajar. Seiring meningkatnya kebutuhan, sang ayah membelikan komputer bekas, kemudian laptop dengan spesifikasi yang lebih tinggi agar proses eksplorasi keamanan siber dapat dilakukan lebih optimal.

Selama sekitar enam bulan terakhir, Ibrahim rutin menguji berbagai situs yang membuka program pelaporan kerentanan. Ketekunan itulah yang akhirnya membawanya menemukan celah pada salah satu situs resmi NASA hingga memperoleh Letter of Recognition.

Meski tinggal di sebuah desa di Kabupaten Boyolali, Ibrahim membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi di tingkat internasional.

Kini ia juga aktif membagikan konten edukasi mengenai coding dan keamanan siber melalui media sosial agar semakin banyak anak muda tertarik mempelajari teknologi.

Di balik prestasi yang diraihnya, Ibrahim tetap menyimpan mimpi sederhana. Selain ingin menjadi profesional di bidang keamanan siber, ia bercita-cita mengajak kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji.

Sementara itu, Aminudin berharap penghargaan dari NASA menjadi pintu pembuka bagi masa depan putranya.

Ia berharap Ibrahim memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan di sekolah yang fokus pada bidang teknologi informasi, termasuk mendapatkan beasiswa agar bakatnya terus berkembang dan kelak mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya