SEMARANG, HARIANKOTA.COM – Lawang Sewu menjadi salah satu ikon wisata paling populer di Kota Semarang, Jawa Tengah. Selama bertahun-tahun, bangunan bersejarah ini lekat dengan cerita mistis.
Dikutip dari laman Indonesia.go.id, kini, wajah Lawang Sewu telah berubah menjadi destinasi wisata sejarah dan edukasi yang ramah bagi semua kalangan.
Dari Bangunan Kolonial ke Ikon Sejarah
Terletak di kawasan Tugu Muda, Lawang Sewu mulai dibangun pada 1904 oleh perusahaan kereta api Belanda Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Pembangunan kompleks ini berlangsung bertahap hingga 1918 dan difungsikan sebagai kantor pusat administrasi.
Nama “Lawang Sewu” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti “seribu pintu”. Julukan tersebut merujuk pada banyaknya pintu dan jendela besar yang dirancang untuk sirkulasi udara alami, meski jumlahnya sebenarnya tidak mencapai seribu.
Dengan arsitektur khas kolonial yang megah dan luas bangunan mencapai lebih dari 18 ribu meter persegi, Lawang Sewu menjadi salah satu bangunan bersejarah penting di Indonesia.
Saksi Perjuangan Kemerdekaan
Tak hanya soal arsitektur, Lawang Sewu juga memiliki nilai historis tinggi. Gedung ini menjadi salah satu lokasi penting dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Pada masa itu, pemuda yang tergabung dalam Angkatan Pemuda Kereta Api berjuang melawan tentara Jepang untuk mempertahankan aset negara pasca kemerdekaan. Peristiwa ini menjadikan Lawang Sewu sebagai simbol perjuangan, bukan sekadar bangunan peninggalan kolonial.
Mitos Mistis yang Melekat
Popularitas Lawang Sewu juga tak lepas dari cerita-cerita urban yang berkembang di masyarakat. Kisah penampakan noni Belanda, suara misterius, hingga cerita ruang bawah tanah sering dikaitkan dengan gedung ini.
Apalagi, Lawang Sewu sempat menjadi lokasi syuting film horor Lawang Sewu: Dendam Kuntilanak, yang semakin memperkuat citra angker di mata publik.
Namun seiring waktu, narasi mistis tersebut mulai bergeser seiring upaya revitalisasi dan edukasi sejarah yang lebih kuat.
Pengelolaan oleh PT Kereta Api Indonesia menghadirkan wajah baru Lawang Sewu. Bangunan ini kini difungsikan sebagai museum perkeretaapian dengan berbagai koleksi bersejarah, mulai dari seragam masinis hingga arsip dan foto lama.
Konsep wisata edukatif ini membuat Lawang Sewu semakin diminati, tidak hanya oleh wisatawan lokal tetapi juga keluarga dan pelajar.
Daya Tarik Baru Ramadan 2026
Pada Ramadan 2026, Lawang Sewu menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Melalui program “Lebaran Rail Experience 2026”, kawasan ini diramaikan dengan bazaar takjil yang menghadirkan pelaku UMKM lokal.
Kegiatan ngabuburit di halaman Lawang Sewu menawarkan suasana unik: berburu kuliner sambil menikmati keindahan bangunan bersejarah saat senja.
Selain itu, tersedia promo “Ramadan Happy Hour” berupa diskon tiket masuk hingga 50 persen. Pengunjung cukup membayar sekitar Rp10.000 untuk menikmati keindahan interior bangunan mulai sore hari.
Wisata Sejarah yang Terus Hidup
Transformasi Lawang Sewu menunjukkan bagaimana bangunan bersejarah dapat tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Dari yang dulu dikenal angker, kini menjadi ruang budaya, edukasi, dan wisata yang inklusif.
Dengan perpaduan nilai sejarah, arsitektur, dan aktivitas wisata modern, Lawang Sewu tidak hanya menjadi saksi masa lalu, tetapi juga bagian penting dari wajah pariwisata Semarang hari ini.

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.