KLATEN, HARIANKOTA.COM – Suasana duka menyelimuti Desa Sidoharjo, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Minggu (25/1/2026). Jenazah Restu Adi Pribadi (39), engineer pesawat ATR 42-500 yang menjadi korban kecelakaan udara di Pangkep, Sulawesi Selatan, akhirnya dimakamkan di tanah kelahirannya.
Sebelum dimakamkan, jenazah Restu Adi terlebih dahulu disemayamkan di rumah keluarga istrinya di Dukuh Tlangu, Desa Bulan, Kecamatan Wonosari. Sejak siang hari, ratusan pelayat silih berganti datang untuk memberikan penghormatan terakhir.
Pantauan di lokasi menunjukkan karangan bunga memenuhi akses jalan menuju rumah duka. Ucapan belasungkawa datang dari berbagai instansi, mulai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan, hingga perusahaan tempat almarhum bekerja, PT Indonesia Air Transport.
Jenazah Restu Adi diberangkatkan dari Makassar dan tiba di rumah duka sekitar pukul 12.17 WIB menggunakan ambulans dari Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Peti jenazah kemudian dibawa ke Masjid Baitul Hikmah untuk disalatkan.
Tangis keluarga pecah saat peti jenazah tiba di masjid. Dyah, istri almarhum, tampak tak kuasa menahan air mata ketika melepas kepergian suaminya untuk terakhir kali. Almarhum meninggalkan seorang istri dan seorang putri berusia sekitar lima tahun.
Prosesi serah terima jenazah berlangsung di rumah duka. Perwakilan Direktorat Jenderal PSDKP KKP, yang diwakili Kepala Stasiun PSDKP Cilacap, menyerahkan jenazah kepada Pemerintah Desa Bulan, sebelum diberangkatkan menuju lokasi pemakaman di Polanharjo.
Kakak ipar almarhum, Bambang Janarom, mengungkapkan bahwa selama ini Restu Adi bersama keluarga tinggal di kawasan Halim, Jakarta. Dalam dua bulan terakhir, istri dan anak almarhum berada di Klaten karena orang tua Dyah tengah sakit.
Menurut Bambang, komunikasi terakhir Restu Adi dengan istrinya terjadi melalui panggilan video, Sabtu pagi (17/1/2026), sesaat sebelum almarhum berangkat ke Makassar.
“Dia pamit mau ke Makassar dan bilang nanti akan mengabari kalau sudah sampai,” ujar Bambang.
Namun, kabar tersebut tak pernah datang. Pesan yang dikirim sang istri hanya berstatus centang satu. Tak lama berselang, keluarga menerima informasi bahwa pesawat yang ditumpangi Restu Adi hilang kontak.
“Kami sekeluarga kaget. Kami hanya bisa berdoa dan berharap ada mukjizat,” kata Bambang.
Restu Adi dikenal telah belasan tahun berkarier sebagai teknisi pesawat. Di mata keluarga dan lingkungan, ia dikenal sebagai pribadi ramah, rendah hati, dan mudah bergaul.
Kepergian Restu Adi meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga rekan kerja dan masyarakat yang mengenalnya.***

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.