MALANG, HARIANKOTA.COM – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah menjadikan swasembada pangan sebagai agenda strategis nasional hingga 2029. Presiden optimistis kemandirian pangan secara menyeluruh dapat dicapai dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat menghadiri Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026).
Presiden menekankan bahwa kedaulatan pangan merupakan fondasi utama bagi kemandirian bangsa. Pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan tata kelola pertanian berjalan adil dan berpihak kepada petani sebagai aktor utama ketahanan pangan nasional.
Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah pembenahan tata kelola pupuk nasional. Pemerintah mengambil alih kendali distribusi pupuk guna menjamin ketersediaan, pemerataan, serta harga yang terjangkau bagi petani di seluruh Indonesia.
“Begitu kita ambil alih pemerintahan, kita bisa menjamin pupuk sampai ke semua petani secara adil, cukup, dan dengan harga yang kita turunkan,” tegas Presiden Prabowo.
Kebijakan tersebut berdampak signifikan terhadap kinerja produksi pangan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun 2024.
Capaian ini sejalan dengan proyeksi FAO dan USDA yang menempatkan produksi beras Indonesia di kisaran 34,6 juta ton, sekaligus menjadi yang tertinggi di kawasan ASEAN.
Peningkatan produksi beras turut memperkuat cadangan pangan nasional. Presiden Prabowo menyebut stok beras nasional saat ini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia.
“Alhamdulillah, pertama kali dalam sejarah republik, cadangan beras kita di gudang-gudang merupakan yang tertinggi,” ujarnya.
Sepanjang 2025, stok beras Bulog tercatat mencapai 3,25 juta ton dan sempat menyentuh 4,2 juta ton pada Juni 2025. Memasuki awal 2026, total stok beras yang dikuasai pemerintah dan masyarakat mencapai 12,53 juta ton, atau naik 49,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Presiden Prabowo menegaskan Indonesia telah memasuki fase penting dalam perjalanan swasembada pangan. Keberhasilan swasembada beras menjadi pijakan menuju kemandirian komoditas strategis lainnya.
“Sejak 31 Desember 2025 Indonesia sudah swasembada beras. Insya Allah sebentar lagi swasembada jagung, dan dalam tiga tahun ke depan kita akan swasembada pangan sepenuhnya,” kata Presiden.
Produksi jagung nasional juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) BPS, produksi jagung pipilan kering sepanjang 2025 mencapai 16,16 juta ton, naik 6,74 persen dibandingkan 2024. Sementara potensi produksi periode Januari–Maret 2026 diproyeksikan mencapai 4,94 juta ton, meningkat 4,18 persen secara tahunan.
Selain peningkatan produksi, Presiden menegaskan bahwa tujuan utama pembangunan sektor pangan adalah memastikan harga pangan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia.
“Kita bertekad menurunkan harga pangan untuk seluruh rakyat Indonesia,” imbuhnya.
Sejalan dengan arahan Presiden, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen Kementerian Pertanian dalam memperkuat fondasi produksi pangan nasional secara berkelanjutan.
Menurut Mentan Amran, capaian swasembada dan target kemandirian pangan menyeluruh merupakan hasil kerja kolektif berbasis kebijakan pro-petani dari hulu hingga hilir.
“Bapak Presiden Prabowo memberikan arahan yang sangat jelas bahwa pangan adalah prioritas nasional. Kami memastikan seluruh kebijakan produksi, distribusi, hingga pendampingan petani berjalan sejalan agar swasembada pangan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat,” pungkasnya.


Tidak ada komentar