KNPI Karanganyar Nilai Proyek Geotermal Jenawi Berisiko bagi Kawasan Hulu Gunung Lawu

Rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) di wilayah Jenawi, lereng Gunung Lawu, memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan lingkungan di kawasan hulu yang memiliki fungsi strategis bagi Karanganyar dan daerah sekitarnya.

chat_bubble_outline 0

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) di wilayah Jenawi, lereng Gunung Lawu, memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan lingkungan di kawasan hulu yang memiliki fungsi strategis bagi Karanganyar dan daerah sekitarnya.

Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kabupaten Karanganyar menilai aktivitas eksplorasi dan pengeboran panas bumi di kawasan tersebut berpotensi menimbulkan dampak ekologis jangka panjang, terutama terhadap sistem hidrologi, stabilitas lereng, dan keberlangsungan sumber mata air yang selama ini menopang kehidupan masyarakat.

Ketua DPD KNPI Karanganyar Bobby Aditya Putra menegaskan, organisasi yang dipimpinnya tidak menolak agenda transisi energi nasional, namun mempertanyakan kelayakan lokasi proyek yang berada di kawasan hulu ekosistem.

“Kami sepakat Indonesia membutuhkan energi baru dan terbarukan. Tetapi pengembangannya harus dilakukan di lokasi yang tepat. Gunung Lawu adalah kawasan penyangga kehidupan, bukan sekadar ruang produksi energi,” kata Bobby, Senin (22/12/2025) .

Menurut KNPI, gangguan terhadap kawasan atas Gunung Lawu berisiko menimbulkan efek berantai. Kerusakan tutupan lahan di lereng dinilai dapat meningkatkan potensi longsor dan banjir pada musim hujan, sekaligus memperbesar ancaman kekeringan saat kemarau.

Bobby menambahkan, dampak tersebut tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga menyentuh aspek keselamatan dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.

“Jika sumber mata air terganggu, yang terdampak bukan hanya lingkungan, tetapi petani, warga desa, dan ketahanan pangan di wilayah ini,” ujarnya.

Selain dampak lingkungan, KNPI Karanganyar juga menyoroti potensi risiko geologis akibat aktivitas pengeboran berskala besar. Perubahan tekanan bawah tanah dinilai dapat memengaruhi kestabilan lereng dan memicu aktivitas seismik ringan.

Sekretaris Umum DPD KNPI Karanganyar Yannuar Faishal mengatakan, proyek energi seharusnya tidak menempatkan masyarakat lokal pada posisi rentan.

“Energi hijau seharusnya membawa manfaat langsung bagi warga sekitar. Jangan sampai atas nama energi bersih, justru muncul ancaman baru terhadap lahan pertanian dan sumber air,” kata Yannuar.

Ia juga menekankan bahwa Gunung Lawu memiliki nilai sosial dan kultural yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa.

Eksploitasi kawasan tersebut dikhawatirkan mengganggu keseimbangan antara pembangunan dan kearifan lokal.

Sebagai alternatif, KNPI Karanganyar mendorong pemerintah mengkaji pengembangan energi surya berbasis panel terapung di waduk-waduk yang telah ada di Karanganyar. Opsi ini dinilai memiliki risiko lingkungan yang lebih rendah serta minim konflik pemanfaatan ruang.

“Teknologi surya terapung sudah diterapkan di banyak negara. Karanganyar memiliki potensi itu tanpa harus mengorbankan kawasan hulu,” kata Bobby.

Sebagai bentuk pernyataan sikap, KNPI Karanganyar juga melakukan aksi penghijauan di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, dengan menanam ratusan bibit tanaman produktif seperti kopi, alpukat, dan jeruk di lereng Gunung Lawu.

“Penghijauan ini bukan simbolik. Ini pesan bahwa menjaga lingkungan harus berjalan seiring dengan kebijakan energi,” ujar Bobby.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya