Aksi Tanpa Orasi, Warga Karanganyar Tegas Tolak Geothermal di Lereng Lawu

aksi damai di Kantor Setda Karanganyar menolak proyek geothermal atau PLTPB di Jenawi, Gunung Lawu

chat_bubble_outline 0
audensi perwakilan elemen masyarakat dengan Pemkab Karanganyar terkait penolakan Geotermal Lawu

KARANGANYAR,HARIANKOTA.COM – Penolakan terhadap rencana Proyek Strategis Nasional (PSN) geothermal di kawasan Jenawi, lereng Gunung Lawu, kembali menguat.

Pasalnya rencana proyek geothermal di wilayah Jenawi (Gunung Lawu) itu berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, sumber daya alam, serta kehidupan masyarakat.

Laskar Umat Islam Karanganyar (LAKIK) bersama elemen lainnya menyampaikan petisi penolakan yang dilengkapi tanda tangan sebagai bentuk ketegasan sikap menolak rencana proyek tersebut.

“Petisi ini  bentuk ketegasan sikap kami dalam menolak rencana pelaksanaan proyek tersebut,” ucapnya, Jumat (13/2/2026).

Aksi berlangsung tertib tanpa orasi. Massa memilih membubuhkan tanda tangan di atas poster sebagai simbol petisi penyelamatan alam Lawu.

Langkah tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam menjaga kelestarian kawasan pegunungan yang selama ini menjadi sumber air bagi masyarakat Karanganyar dan Solo Raya.

Usai aksi, perwakilan massa diterima audiensi oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karanganyar, Sunarno.

Dalam pertemuan itu, para aktivis menyampaikan kekhawatiran atas kabar masuknya kembali proyek geothermal ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).

Hal yang sama disampaikan juga oleh satu tokoh yang vokal menyuarakan penolakan, Aan Shopuanudin, seorang aktifis Jaga Lawu. Aan menegaskan bahwa sikapnya tidak berubah sejak awal.

Ia menyampaikan apresiasi kepada gabungan relawan yang diinisiasi LAKIK karena telah menyatukan suara penolakan terhadap proyek geothermal di Jenawi.

“Saya tetap konsisten sejak dulu sampai sekarang. Penolakan ini harus dibatalkan,” tegasnya.

Menurutnya, dampak paling krusial dari proyek panas bumi tersebut adalah potensi eksploitasi air dalam jumlah besar. Kebutuhan air untuk operasional pembangkit geothermal dinilai sangat tinggi dan dikhawatirkan mengganggu ketersediaan air bagi masyarakat.

“Yang banyak tereksplor itu soal air. Kebutuhan airnya luar biasa, bisa tersedot,” ujarnya.

Aan juga menyatakan aktifis Jaga Lawu siap untuk kembali menggelar aksi besar apabila aspirasi yang telah disampaikan tidak mendapatkan tanggapan dari pihak terkait.

Namun langkah tersebut akan menjadi pilihan terakhir setelah berbagai upaya persuasif dan penyampaian pendapat dilakukan secara damai tidak membuahkan hasil.

“Kalau memang dibutuhkan, kami akan melakukan aksi seperti dulu. Seluruh gabungan masyarakat se-Kabupaten Karanganyar akan turun. Itu jalan terakhir kami ketika langkah-langkah seperti ini tidak didengar,” ujarnya.

Ia menegaskan, saat ini pihaknya masih mengedepankan pendekatan dialog dan komunikasi. Namun, konsolidasi tetap dilakukan dengan merangkul berbagai organisasi dan elemen masyarakat di Karanganyar agar gerakan tetap solid.

“Dukungan juga datang dari PP Muhammadiyah yang dinilai semakin memperkuat semangat perjuangan. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi tambahan energi bagi masyarakat untuk terus konsisten menyuarakan aspirasi,” imbuhnya.

Kepala DLH Karanganyar, Sunarno, menyampaikan hasil audiensi akan dilaporkan kepada pimpinan daerah untuk dikomunikasikan lebih lanjut. Berdasarkan informasi yang ia terima, proyek geothermal di Lawu disebut telah dikeluarkan dari daftar PSN sejak 2023.

“Sepengetahuan kami, proyek geothermal di Lawu sudah tidak lagi masuk PSN. Namun informasi ini akan kami sampaikan kembali ke pimpinan untuk memastikan dan mengklarifikasi,” ujarnya.

Sunarno menegaskan, Pemerintah Kabupaten Karanganyar memiliki komitmen yang sama dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Ia mengakui Gunung Lawu merupakan kawasan vital sebagai sumber air utama bagi Solo Raya sehingga keberlanjutannya harus dijaga bersama.

“Kami tentu ingin Gunung Lawu tetap lestari karena menjadi sumber air penting bagi masyarakat. Prinsipnya, menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” tandasnya.

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya

Upacara Jumenengan PB XIV Lengkapi Tahapan Tradisi Keraton Surakarta

SOLO, HARIANKOTA.COM – Rangkaian adat jumenengan di Keraton Surakarta Hadiningrat bukan sekadar seremoni pergantian kepemimpinan. Prosesi yang dijalani selama dua hari menjadi bagian penting dalam melengkapi tahapan tradisi bertahtanya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIV Hangabehi. Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah […]

2 hari yang lalu