DENPASAR, HARIANKOTA.COM – Memiliki rumah sendiri masih menjadi impian banyak orang. Namun, bagi masyarakat dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan, wacana mencicil rumah kerap terasa seperti hal yang sulit dijangkau.
Di tengah naiknya harga properti, apakah mimpi tersebut masih realistis? Apalagi dengan gaji Rp1 juta, cukup untuk bertahan hidup saja sudah sulit. Tapi di balik itu, masih ada mimpi besar yang diam-diam terus diperjuangkan: memiliki rumah sendiri.
Bagi sebagian orang, Rp1 juta mungkin hanya angka kecil. Namun bagi jutaan lainnya, angka itu adalah batas antara bertahan dan kekurangan. Setiap rupiah sudah memiliki tujuan: untuk makan hari ini, ongkos bekerja, hingga kebutuhan paling dasar.
Dalam kondisi seperti itu, menabung sering kali bukan pilihan, melainkan kemewahan. Apalagi berbicara tentang membeli rumah—sebuah impian yang terasa semakin menjauh seiring waktu.
Rumah yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar, perlahan berubah menjadi simbol kesenjangan. Mereka yang mampu terus melangkah, sementara yang berpenghasilan rendah harus tertatih, bahkan sekadar untuk memulai.
Pengamat ekonomi dari Lembaga Riset Ekonomi Nasional dan Kebijakan Publik, Ardiansyah Putra, menilai realita ini sebagai tekanan struktural yang nyata.
“Secara hitungan ideal, cicilan rumah maksimal 30 persen dari pendapatan. Dengan gaji Rp1 juta, hanya sekitar Rp300 ribu yang bisa dialokasikan. Ini membuat akses terhadap kepemilikan rumah hampir tertutup bagi sebagian masyarakat,” tegas Ardian saat berbincang santai pada HARIANKOTA.COM, Minggu (19/4/3026).
Kondisi tersebut membuat banyak orang terjebak dalam dilema: tetap bermimpi atau menyerah pada keadaan. Namun bagi sebagian lainnya, mimpi itu tetap dijaga, meski harus ditempuh dengan langkah kecil dan waktu yang panjang.
Program rumah subsidi dari pemerintah menjadi satu-satunya celah yang masih bisa diharapkan. Namun celah itu pun tidak lebar.
Persyaratan administrasi, kestabilan penghasilan, hingga ketersediaan unit membuat tidak semua orang bisa dengan mudah masuk.
Praktisi keuangan independen dari Institute of Financial Planning Indonesia, Nadia Permata, mengingatkan bahwa kondisi sulit ini tidak boleh langsung mematikan harapan.
“Mimpi punya rumah tetap mungkin, tapi harus realistis. Mulai dari langkah kecil—menabung, mengurangi pengeluaran, dan mencari tambahan penghasilan. Tanpa itu, mimpi hanya akan jadi angan,” ujarnya.
Namun ia juga menekankan bahwa perjuangan tersebut tidak ringan. Dibutuhkan waktu, disiplin, dan ketahanan mental untuk terus berjalan di tengah keterbatasan yang ada.
Bagi mereka yang hidup dengan Rp1 juta per bulan, mimpi memiliki rumah bukan sekadar rencana—melainkan perjuangan panjang yang sering kali sunyi.
Di tengah realita yang keras, harapan mungkin tampak kecil, tetapi tetap ada. Karena bagi banyak orang, rumah bukan hanya tempat tinggal, melainkan simbol bahwa mereka juga berhak atas masa depan yang lebih layak.***


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.