JAKARTA,HARIANKOTA.COM – Presiden Prabowo Subianto resmi menetapkan Presiden ke-2 RI Soeharto dan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Pahlawan Nasional 2025.
Upacara penganugerahan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025), dengan suasana penuh khidmat dan simbolik bagi perjalanan politik bangsa.
Penganugerahan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Di balik keputusan itu, tersirat pesan rekonsiliasi politik dan peneguhan sejarah, ketika dua tokoh dengan latar perjuangan berbeda kini diakui setara dalam penghargaan negara.
Penghargaan tersebut dituangkan dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 yang diteken Prabowo pada 6 November 2025.
Dalam beleid itu disebutkan, gelar pahlawan diberikan kepada tokoh yang memiliki jasa luar biasa bagi persatuan, kemerdekaan, dan keutuhan bangsa, sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
Isi Keppres menegaskan penghormatan negara terhadap dedikasi para tokoh lintas zaman. “Sebagai penghargaan dan penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa,” bunyi kutipan keputusan tersebut.
Gelar untuk Jenderal Besar TNI (Purn) H. M. Soeharto diserahkan kepada ahli warisnya, Bambang Trihatmodjo dan Siti Hardijanti Rukmana.
Soeharto diakui berjasa dalam perjuangan bersenjata dan politik, terutama pada masa revolusi kemerdekaan.
“Sebagai Wakil Komandan BKR Yogyakarta, Jenderal Soeharto memimpin pelucutan senjata Jepang di Kota Baru tahun 1945,” disebutkan dalam naskah upacara.
Pengakuan ini menandai perubahan besar dalam narasi sejarah nasional. Setelah dua dekade lebih pasca reformasi, negara kini memberikan penghormatan resmi kepada sosok yang selama 32 tahun memimpin Indonesia.
Sementara itu, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dinobatkan sebagai pahlawan di bidang politik dan pendidikan Islam.
Sosoknya dikenal sebagai pemimpin yang memperjuangkan demokrasi, pluralisme, dan keadilan sosial. Gus Dur dianggap berperan penting dalam memperkuat kebebasan beragama serta perlindungan hak asasi manusia di Indonesia.
Langkah ini memperlihatkan komitmen pemerintahan Prabowo terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang inklusif dalam bingkai hukum dan konstitusi.
Sepuluh Tokoh Penerima Gelar Pahlawan Nasional 2025
1. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Politik dan Pendidikan Islam
2. Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto – Perjuangan Bersenjata & Politik
3. Marsinah – Sosial dan Kemanusiaan
4. Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja – Hukum & Politik
5. Hajjah Rahmah El Yunusiyyah – Pendidikan Islam
6. Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo – Perjuangan Bersenjata
7. Sultan Muhammad Salahuddin – Diplomasi dan Pendidikan
8. Syaikhona Muhammad Kholil – Pendidikan Islam
9. Tuan Rondahaim Saragih – Perjuangan Bersenjata
10. Zainal Abidin Syah – Politik dan Diplomasi
Langkah Presiden Prabowo memberikan gelar kepada dua presiden lintas era ini dibaca sebagai pesan politik rekonsiliatif.
Soeharto melambangkan masa pembangunan dan stabilitas, sementara Gus Dur dikenal sebagai simbol demokrasi dan keterbukaan.
Keduanya kini dipersatukan dalam satu babak sejarah: diakui negara sebagai pahlawan bangsa.
Pengamat politik menilai, keputusan ini memperkuat citra Prabowo sebagai pemimpin yang berupaya menyatukan kembali narasi sejarah nasional — tanpa terjebak pada perdebatan masa lalu, namun berfokus pada penghormatan atas jasa nyata bagi negara.
Secara hukum, penganugerahan ini mempertegas fungsi konstitusional Presiden sebagai kepala negara yang memiliki wewenang dalam pemberian tanda kehormatan.
Namun secara politik, keputusan ini juga menjadi simbol legitimasi moral pemerintahan Prabowo, yang menegaskan bahwa negara tidak lagi terbelah oleh perbedaan ideologi masa lalu.***


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.