KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Wakil Bupati Karanganyar, Adhe Eliana, menegaskan pentingnya peran generasi muda sebagai agen perdamaian dalam menjaga persatuan bangsa. Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Sabtu (20/9/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Adhe menggarisbawahi bahwa situasi bangsa saat ini tidak lepas dari potensi perpecahan yang bisa muncul akibat perbedaan pandangan. Oleh karena itu, mahasiswa yang dikenal sebagai agen perubahan dituntut untuk bijak, kritis, namun tetap mampu merawat nilai kebersamaan.
Menurut Adhe, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam menentukan arah bangsa ke depan. Dengan bekal intelektual dan semangat idealisme, generasi muda dapat mendorong terciptanya suasana harmonis di tengah masyarakat yang beragam.
“Mahasiswa itu bukan hanya pencari ilmu, tetapi juga agen perubahan. Tugas mereka adalah menghadapi tantangan zaman dengan sikap bijak, terutama dalam menggunakan media sosial. Jangan sampai ruang digital justru menjadi sumber perpecahan,” kata Adhe, Sabtu (20/9/2025).
Ia menekankan, literasi digital menjadi kunci utama agar mahasiswa tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Media sosial harus dipakai sebagai sarana edukasi, komunikasi sehat, dan memperkuat persaudaraan, bukan sebaliknya.
Selain soal literasi digital, Adhe juga menyoroti pentingnya moderasi beragama sebagai bagian dari pembentukan karakter mahasiswa. Menurutnya, moderasi bukan hanya soal sikap toleransi, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan antara keyakinan pribadi dan kehidupan bersama.
“Moderasi itu melangkah bersama, membentuk karakter kuat, dan tetap menghargai keberagaman. Kalau mahasiswa sudah memiliki pondasi ini, mereka akan lebih siap menghadapi dinamika di republik ini,” jelasnya.
Adhe menambahkan, pemerintah daerah terus mendukung inisiatif FKUB dalam menciptakan ruang dialog lintas iman, terutama yang melibatkan kalangan muda. Harapannya, kegiatan semacam ini mampu menanamkan nilai persatuan sejak dini.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Karanganyar juga menegaskan bahwa pemerintah hadir untuk melayani masyarakat. Namun, keberhasilan menjaga kerukunan tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah semata. Diperlukan sinergi dari semua pihak, mulai dari tokoh agama, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
“Pemerintah menempatkan dirinya untuk melayani. Tapi menjaga persaudaraan adalah kerja kolektif. Kita butuh dukungan semua pihak agar tercipta kerukunan dan kesejahteraan bersama,” tegasnya.
Adhe mengingatkan bahwa bangsa ini dibangun di atas keberagaman. Dengan demikian, perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang bisa dijadikan modal sosial untuk melangkah maju.
Di era digital seperti sekarang, tantangan terbesar generasi muda adalah arus informasi yang begitu deras. Tidak sedikit konflik bermula dari kesalahpahaman di dunia maya yang kemudian meluas ke kehidupan nyata. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki ketahanan karakter agar tidak mudah terombang-ambing oleh isu yang menyesatkan.
“Kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan kebijaksanaan. Jika tidak, generasi muda bisa terjebak pada polarisasi. Di sinilah pentingnya membangun moderasi dan literasi digital,” ujar Adhe.
Ia berharap, melalui kegiatan bersama FKUB ini, mahasiswa bisa semakin memahami peran strategis mereka. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas dan bangsa.
Pemerintah Kabupaten Karanganyar berkomitmen menjadikan kegiatan lintas kalangan sebagai bagian dari upaya menjaga keharmonisan sosial.
Kolaborasi antara FKUB, perguruan tinggi, dan pemerintah diyakini mampu menjadi teladan bagi daerah lain dalam mengelola keragaman.
“Kerukunan itu tidak hadir dengan sendirinya, melainkan harus terus dirawat. Jika mahasiswa, tokoh agama, dan pemerintah berjalan seiring, saya yakin Karanganyar akan semakin kokoh sebagai daerah yang damai dan sejahtera,” tutup Adhe.***


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.