PROBOLINGGO, HARIANKOTA.COM – Perjalanan wisata yang seharusnya menjadi momen membahagiakan bagi rombongan karyawan Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) Jember, berakhir tragis.
Bus yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan maut di lereng Gunung Bromo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Minggu (14/9/2025).
Akibat insiden mengerikan ini, delapan orang dinyatakan tewas, dan puluhan lainnya luka-luka.
Kasus ini kini dalam penanganan intensif pihak kepolisian.
Dugaan kuat mengarah pada kegagalan sistem pengereman atau rem blong sebagai pemicu utama kecelakaan. Sopir bus berinisial Albahri, 59, warga Gladak Pakem, Jember, telah diamankan di kantor Satlantas Polres Probolinggo untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Rem Blong Saat di Tikungan Tajam
Menurut Kasi Humas Polres Probolinggo, Iptu Merdhania Pravita Shanty, kecelakaan terjadi saat bus melaju di jalan menurun dan menikung tajam di Desa Boto, Kecamatan Lumbang.
Bus Hino PO IND’S 88 yang mengangkut 52 penumpang, mendadak lepas kendali dan menabrak pembatas jalan.
“Bus ini menabrak pembatas jalan, lalu masih berjalan terus sampai menabrak pagar dari salah satu rumah warga, dan waktu menabrak pembatas pagar baru kendaraan ini berhenti,” terang Iptu Merdhania.
Identitas Korban dan Fakta Mencengangkan
Dari total 52 penumpang, delapan di antaranya tewas, dan 44 lainnya luka-luka. Tujuh korban tewas telah berhasil diidentifikasi.
Korban-korban tersebut termasuk Hesty Purba Wredhamaya (39), seorang perawat RSBS; Arti Wibowati (34), perawat RSBS; dan satu keluarga utuh yang terdiri dari Hendra Pratama (37) bersama istri Wardatus Soleha (35), dan anak mereka Aiza Fahrani Agustin (7). Terdapat pula anak-anak lain yang menjadi korban jiwa.
Fakta ini semakin menguatkan bahwa korban tewas tidak hanya karyawan RSBS, tetapi juga anggota keluarga mereka yang ikut dalam rombongan wisata.
Tanggung Jawab Pengelola Bus Dipertanyakan
Satlantas Polres Probolinggo juga memanggil pengelola PO IND’S 88 untuk dimintai keterangan.
Polisi akan mendalami kelayakan bus dan prosedur keselamatan yang dijalankan. Hal ini menjadi krusial, mengingat bus tersebut beroperasi di jalur pegunungan yang berisiko tinggi.
“Hasil investigasi kecelakaan bus di Bromo ditargetkan keluar tiga hari ke depan,” kata salah satu pejabat kepolisian.
Pihak berwajib menekankan bahwa setiap pengelola transportasi wajib memastikan kendaraannya layak jalan demi keselamatan penumpang.
Kasus ini menjadi sorotan serius dan menimbulkan pertanyaan besar tentang pengawasan keselamatan armada bus pariwisata, terutama yang melayani rute-rute ekstrem.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.