Kue Moho di Solo, Tradisi Sunyi Imlek yang Tetap Bertahan di Tengah Tren Modern

Kue tradisional simbol ketulusan umat Khonghucu ini tetap bertahan di tengah tren kuliner modern.

chat_bubble_outline 0
Kue Moho, kuliner tradisional yang masih banyak diburu masyarakat

SOLO, HARIANKOTA.COM — Menjelang Tahun Baru Imlek 2026, suasana berbeda terasa di kawasan Pecinan Solo. Di balik gemerlap lampion dan dekorasi merah, ada tradisi yang tetap hidup secara sederhana: kue moho.

Kue berwarna putih dengan bentuk bulat polos ini mungkin tampak biasa. Namun bagi umat Khonghucu, moho memiliki makna mendalam sebagai simbol ketulusan dan kecukupan. Kue ini kerap diletakkan di altar sembahyang saat perayaan Imlek sebagai persembahan untuk leluhur.

Di kawasan Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo, Sri Murwatiningsih sudah memproduksi moho sejak 2007. Setiap menjelang Imlek, dapurnya nyaris tak berhenti mengepul. Permintaan meningkat dibanding hari biasa.

“Kalau Imlek, dapur ini rasanya tidak boleh berhenti,” ujarnya, Minggu (15/2/2026).

Dalam keseharian, ia mengolah sekitar 20 kilogram tepung terigu. Namun saat Imlek, jumlahnya bertambah karena banyak pelanggan lama hingga generasi muda yang kembali mencari kue tradisional ini. Dengan harga Rp3.000 per biji, moho dikenal tahan lama dan mengenyangkan.

Bagi warga Solo lainnya, seperti Tri Sunanti, moho bukan sekadar pelengkap ritual. Kue ini juga menjadi sajian keluarga saat berkumpul. “Sederhana, tapi selalu bikin ingat rumah,” katanya.

Di tengah maraknya kue modern dan tren kuliner musiman, moho tetap bertahan dengan bentuk dan rasa yang sama. Kesederhanaannya justru menjadi kekuatan—menjaga ingatan, tradisi, dan makna Imlek tetap terhubung antar generasi di Kota Solo.

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya