Kemenag Karanganyar Rehab Rumah Guru Ngaji di Matesih, 87 Personel Turun Gotong Royong

Kemenag Karanganyar merehab rumah guru ngaji di Girilayu, Matesih. Sebanyak 87 pegawai dan penyuluh agama gotong royong wujudkan program Kemenag Berdampak.

chat_bubble_outline 0
Kemenag Karanganyar Rehab Rumah Guru Ngaji di Matesih, 87 Personel Turun Gotong Royong (Foto: Ist/HARIANKOTA)

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Komitmen menghadirkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat ditunjukkan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Karanganyar melalui aksi rehabilitasi rumah seorang guru ngaji di Dusun Rotogondang, Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kamis (12/2/2026).

Rumah milik Ahmad Zarkowi yang telah berdiri sekitar tiga dekade menjadi sasaran perbaikan. Bangunan tersebut dihuni bersama lima saudaranya.

Struktur atap yang masih menggunakan rangka bambu dan sudah termakan usia dinilai berisiko bagi keselamatan penghuni, terutama saat musim hujan dan angin kencang.

Sebanyak 87 personel diterjunkan dalam kegiatan ini, terdiri atas 30 pegawai Kemenag Karanganyar dan 57 penyuluh agama. Mereka diberangkatkan usai apel pagi yang dipimpin Kepala Kantor Kemenag Karanganyar Hidayat Masykur.

Menurut Hidayat, gerakan tersebut merupakan bagian dari penguatan program Kemenag Berdampak, yang menitikberatkan pada aksi nyata dan kebermanfaatan langsung.

“Penyuluh agama tidak hanya hadir dalam forum keagamaan, tetapi juga harus menjadi motor penggerak sosial. Kemenag harus benar-benar dirasakan kehadirannya oleh masyarakat,” ujarnya.

Gotong Royong dan Kolaborasi Warga
Setibanya di lokasi, para relawan bersama warga langsung memulai proses renovasi dengan menurunkan genting dan membongkar bagian atap yang rapuh.

Kerja bakti berlangsung dalam suasana kebersamaan. Sejumlah penyuluh agama perempuan turut ambil bagian dengan menyiapkan konsumsi bagi para relawan dan warga yang terlibat.

Ketua pelaksana kegiatan, M. Ihsanuddin, yang juga Penyuluh Agama Islam Kecamatan Mojogedang, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bukti penyuluh agama mampu hadir secara konkret.

“Dakwah tidak berhenti di mimbar. Kami ingin menunjukkan bahwa penyuluh juga bisa bekerja nyata, membantu, dan memberi solusi langsung di tengah masyarakat,” katanya.

Selain perbaikan fisik bangunan, para penyuluh juga berdialog dengan warga sekitar. Penguatan mental dan spiritual diberikan agar keluarga penerima manfaat tetap optimistis menjalani kehidupan.

Humas Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Karanganyar, Ibnu Subarkah, menambahkan bahwa gerakan ini dirancang sebagai langkah berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan insidental.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan kembali semangat gotong royong sekaligus memperkuat solidaritas sosial berbasis nilai keagamaan,” ujarnya.

Rehabilitasi rumah tersebut diharapkan tak hanya membuat hunian lebih aman dan layak, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun ketahanan sosial dari tingkat desa.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya