BPBD Wonogiri Cek Bendungan Krisak Selogiri Saat Musim Hujan

BPBD Wonogiri melakukan inspeksi Bendungan Krisak atau Waduk Tandon di Selogiri. Tinggi muka air tercatat 12,4 meter dan masih dalam batas aman meski hujan deras mengguyur wilayah hulu.

chat_bubble_outline 0
(BPBD Wonogiri) melakukan inspeksi teknis di Bendungan Krisak/Humas Pemkab Wonogiri

WONOGIRI, HARIANKOTA.COM – Memasuki musim hujan dengan intensitas yang fluktuatif, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Wonogiri (BPBD Wonogiri) melakukan inspeksi teknis di Bendungan Krisak atau yang dikenal sebagai Waduk Tandon, di Desa Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Rabu (18/2/2026).

Inspeksi lapangan dipimpin Kepala Bidang Kedaruratan dan Rehabilitasi BPBD Wonogiri, Mudrik Alfan, bersama Koordinator Bendungan Krisak, Budi Darma.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya preventif untuk memastikan kondisi bendungan tetap optimal serta mampu mengantisipasi potensi luapan air ke wilayah hilir saat curah hujan meningkat.

Berdasarkan pemantauan langsung pada alat ukur tinggi muka air (peilschaal), elevasi air tercatat di angka 12,4 meter. Data tersebut menjadi acuan penting dalam pengambilan keputusan operasional pengendalian debit air.

Secara teknis, Bendungan Krisak memiliki kapasitas tampungan total 3.717.000 meter kubik dengan volume efektif sekitar 2,34 juta meter kubik.

Dengan tinggi bendungan mencapai 15 meter, infrastruktur yang dibangun pada 1943 ini berfungsi mengairi lahan pertanian seluas 340 hektare sekaligus sebagai pengendali banjir di wilayah sekitar Selogiri dan sekitarnya.

“Kami tidak hanya membaca angka di alat ukur, tetapi juga mencocokkannya dengan tabel pengaturan elevasi muka air waduk. Setiap kenaikan sentimeter sangat menentukan langkah operasional,” ujar Alfan.

Dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) pengendalian bendungan, terdapat tiga kategori status kewaspadaan:

Status Waspada (Elevasi +113,51 – 114,1 m): Petugas mulai disiagakan untuk pengawasan intensif dan pengecekan sistem komunikasi.

Status Siaga (Elevasi +114,11 – 114,40 m): Dilakukan pelepasan air minimal 33,8 meter kubik per detik secara bertahap hingga mencapai batas aman.

Status Awas (Elevasi +114,41 – 114,80 m): Minimal 90 persen petugas teknis turun ke lapangan, dengan koordinasi lintas sektoral bersama dinas terkait, TNI/Polri, serta BBWS Bengawan Solo secara real time.

Operasional Bendungan Krisak dibagi dalam tiga kondisi utama:

Kondisi Normal, fokus pada pemenuhan kebutuhan air irigasi petani di hilir.

Kondisi Banjir, dilakukan pengaturan muka air melalui pintu pelimpah (spillway) agar tetap di elevasi aman.

Kondisi Darurat, dilakukan penurunan muka air secara cepat untuk menjaga stabilitas struktur bendungan dan keselamatan masyarakat.

Alfan menegaskan, inspeksi rutin ini merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat, terutama saat cuaca ekstrem.

Warga diimbau tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan selalu merujuk pada keterangan resmi dari BPBD maupun petugas pintu air.

“Sinergi antara data teknis dan pantauan visual di lapangan menjadi kunci. Kami pastikan setiap pergerakan air terpantau, khususnya saat hujan deras di wilayah hulu,” tegasnya.

Hingga Rabu (18/2/2026) pukul 13.00 WIB, meski hujan cukup deras mengguyur wilayah Wonogiri, kondisi Bendungan Krisak masih dalam batas kendali operasional. Namun, pengawasan tetap diperketat mengingat dinamika cuaca yang sulit diprediksi.

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya