KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM— Telepon Heru Santosa kepada kedua orang tuanya tak menyisakan firasat apa pun. Saat itu, keluarga tak pernah menyangka percakapan tersebut menjadi komunikasi terakhir sebelum Heru meninggal dunia di Jepang.
Pekerja migran asal Karanganyar berusia 24 tahun itu kini telah kembali ke kampung halaman. Jenazah Heru tiba di Terminal Cargo Bandara Adi Soemarmo (SOC), Boyolali, Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.
Jenazah kemudian dibawa menggunakan ambulans menuju rumah duka di Gayamdompo, Karanganyar. Bupati Karanganyar Rober Christanto bersama Kepala Disdagperinaker Karanganyar Agung Wahyu Utomo turut menjemput kedatangan jenazah di bandara.
Tangis keluarga pecah ketika peti jenazah tiba di rumah duka. Jamin dan Dwi Purwanti, orang tua Heru, tak kuasa menahan kesedihan. Sang ibu bahkan sempat pingsan saat melihat kepulangan anak pertamanya.
Kepala Disdagperinaker Karanganyar Agung Wahyu Utomo mengatakan keluarga masih mengalami syok atas kepergian Heru.
“Video call dengan keluarga itu menjadi yang terakhir. Sampai sekarang keluarga masih syok,” kata Agung, Jumat (28/8/2026).
Heru berangkat ke Jepang pada 2023 melalui LPK Hiro Karanganyar untuk mengikuti program pemagangan. Selama hampir tiga tahun, ia bekerja di Highness Co. Ltd., Nakano-ku, Tokyo, di bidang carpentry work atau pertukangan kayu.
Padahal, Heru masih memiliki masa kontrak sekitar enam bulan. Ia berencana pulang setelah kontraknya selesai.
Rencana tersebut tidak pernah terwujud. Heru meninggal dunia pada Kamis (13/8/2026) sekitar pukul 14.30 waktu Jepang setelah tenggelam di sebuah sungai saat berlibur bersama rekan-rekannya.
Kepala Dusun setempat, Mulyono, mengatakan Heru merupakan anak pertama Jamin dan Dwi Purwanti. Keluarga sebenarnya sudah menantikan kepulangannya setelah masa kontrak berakhir.
“Rencananya ya habis kontrak mau pulang,” ujar Mulyono.
Heru juga telah menyiapkan masa depan di kampung halaman. Penghasilannya selama bekerja di Jepang dikumpulkan untuk membangun rumah di samping rumah orang tuanya. Namun, rencana itu kini hanya tinggal kenangan.
Setelah tiba di rumah duka, jenazah Heru dimandikan sesuai permintaan keluarga dan adat setempat. Jenazah kemudian disalatkan di Masjid Al Huda sebelum dimakamkan di Pemakaman Umum Mojoloyo, Duren, Gayamdompo, setelah salat Jumat sekitar pukul 13.30 WIB.
Adapun hak Heru selama mengikuti program pemagangan di Jepang telah diurus melalui LPK Hiro. Hak tersebut meliputi asuransi, uang perpisahan, uang pensiun, serta sisa gaji selama enam bulan masa kontrak yang belum dijalani.

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.