KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Tradisi budaya kembali menjadi perekat kebersamaan masyarakat di Kabupaten Karanganyar. Ribuan warga memadati Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, setiap 15 Suro atau 15 Muharam untuk mengikuti Tradisi Wahyu Kliyu, upacara adat yang menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa memohon keselamatan.
Puncak tradisi digelar tepat pukul 00.00 WIB dengan kirab dan penyebaran ribuan kue apem yang diperebutkan warga. Banyak masyarakat membawa payung terbalik untuk menangkap apem yang dipercaya membawa berkah.
Tradisi ini berawal dari Dusun Kendal pada abad ke-19 saat wilayah tersebut dilanda wabah penyakit dan paceklik. Atas petunjuk Keraton Surakarta, warga diminta berdzikir “Ya Hayyu Ya Qayyum” sambil melempar 344 buah apem.
Seiring waktu, pelafalan dzikir tersebut berubah menjadi Wahyu Kliyu, yang kini dikenal sebagai tradisi turun-temurun dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional.
Selain menjadi daya tarik wisata budaya, Tradisi Wahyu Kliyu juga menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, dan pelestarian warisan leluhur masyarakat Jatipuro.
Tradisi ini berawal dari Dusun Kendal pada abad ke-19 saat wilayah tersebut dilanda wabah penyakit dan paceklik. Atas petunjuk Keraton Surakarta, warga diminta berdzikir “Ya Hayyu Ya Qayyum” sambil melempar 344 buah apem.
Seiring waktu, pelafalan dzikir tersebut berubah menjadi Wahyu Kliyu, yang kini dikenal sebagai tradisi turun-temurun dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional.
Kirab budaya yang telah menjadi agenda masyarakat tersebut menampilkan beragam atraksi seni tradisional, arak-arakan budaya, serta partisipasi warga dari berbagai desa di Kecamatan Jatipuro. Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan.
Bupati Karanganyar Rober Christanto, turut mengikuti kirab bersama Sekretaris Daerah, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Kehadiran pemerintah daerah menjadi bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya lokal.
Dalam sambutannya, Bupati mengatakan Kirab Budaya Wahyu Kliyu tidak hanya menjadi perayaan budaya tahunan, tetapi juga sarana memperkuat persatuan masyarakat sekaligus mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
“Melalui kegiatan ini, kita diajak untuk terus mencintai budaya sendiri, menjaga tradisi leluhur, serta mewariskannya kepada generasi penerus agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman,” ujar Bupati.
Ia menilai budaya merupakan kekayaan daerah yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan spiritual. Selain itu, kegiatan budaya juga berpotensi mendukung sektor pariwisata sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat melalui UMKM, seni pertunjukan, dan ekonomi kreatif.
Bupati juga mengapresiasi panitia, tokoh masyarakat, seniman, budayawan, dan seluruh warga Kecamatan Jatipuro yang bergotong royong menyukseskan penyelenggaraan kirab.
“Semangat kebersamaan menjadi modal penting dalam menjaga harmoni sosial sekaligus mendukung pembangunan berbasis budaya,” ucap Rober.
Pemerintah Kabupaten Karanganyar menyatakan akan terus mendukung berbagai kegiatan budaya sebagai bagian dari upaya menjaga warisan leluhur, memperkuat identitas daerah.
“Sekaligus mengembangkan potensi wisata budaya yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.