KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Sebanyak 182.580 liter minyak goreng bantuan pangan Minyakita yang diduga terkontaminasi hingga berbau menyerupai solar telah ditarik dan diganti 100 persen oleh PT Kusuma Mukti Remaja (KMR), produsen Minyakita yang berlokasi di Jl. Raya Solo–Sragen Km 7,8, Gerdu, Jetis, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar.
Penarikan dilakukan terhadap produk yang beredar di Kabupaten Karanganyar, Klaten, Wonogiri, dan Tegal sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan, meski hasil uji laboratorium penyebab dugaan kontaminasi masih dalam proses.
Direktur PT Kusuma Mukti Remaja (KMR), Joko Mukti Wijaya, mengatakan keputusan menarik seluruh produk dalam satu batch produksi diambil tanpa menunggu hasil investigasi laboratorium. Menurutnya, keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama perusahaan.
“Hari ini kami pastikan penarikan dan penggantian minyak goreng yang bermasalah di Karanganyar, Klaten, dan Wonogiri sudah 100 persen. Untuk Tegal juga telah selesai lebih dahulu,” kata Joko kepada wartawan, Jumat (26/6/2026).
Ia menjelaskan, proses penarikan dapat berlangsung cepat berkat dukungan Perum Bulog bersama pemerintah desa yang membantu menjangkau penerima bantuan hingga wilayah terpencil.
Menurut Joko, volume minyak yang diduga bermasalah sebenarnya hanya sekitar 100 ton dari total kapasitas produksi perusahaan yang mencapai 5.000 ton per bulan. Meski demikian, perusahaan memutuskan menarik seluruh produk dalam batch produksi yang sama untuk menghindari risiko terhadap konsumen.
“Kalau satu batch terindikasi bermasalah, kami tidak mungkin memilih-milih. Semua kami tarik agar masyarakat benar-benar terlindungi,” ujarnya.
Data perusahaan mencatat, minyak goreng yang berhasil ditarik dan diganti meliputi 42.644 liter di Karanganyar, 71.648 liter di Klaten, serta 68.288 liter di Wonogiri. Sementara proses penarikan di Kabupaten Tegal telah lebih dahulu diselesaikan.
Joko menegaskan, keputusan menarik produk sebelum hasil laboratorium keluar merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan agar masyarakat tidak dirugikan apabila dugaan kontaminasi terbukti.
“Daripada menunggu hasil laboratorium satu hingga dua minggu, lebih baik kami menarik dan mengganti seluruh produk lebih dulu. Itu bentuk tanggung jawab kami agar masyarakat tidak dirugikan,” katanya.
Hingga kini PT KMR masih menunggu hasil investigasi laboratorium untuk memastikan penyebab dugaan kontaminasi. Dugaan sementara mengarah pada kemungkinan kontaminasi yang terjadi saat proses penyimpanan maupun distribusi. Namun, perusahaan menegaskan belum akan menyimpulkan penyebab pasti sebelum hasil pengujian resmi diterima.
Meski harus menanggung kerugian akibat penarikan produk dalam jumlah besar, Joko memastikan perusahaan siap bertanggung jawab penuh atas seluruh proses penggantian produk kepada masyarakat.
“Kami memang mengalami kerugian, tetapi itu adalah tanggung jawab perusahaan. Yang terpenting masyarakat terlindungi,” pungkasnya.***


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.