SOLO, HARIANKOTA.COM – Di balik setiap lembar kain Batik Ciprat Mas Danu tersimpan kisah tentang harapan, pemulihan, dan kesempatan kedua. Hal itulah yang menjadi perhatian Wali Kota Surakarta Respati Ardi saat mengunjungi sentra produksi Batik Ciprat Mas Danu di Danukusuman, Serengan, Solo.
Dalam kunjungan tersebut, Respati tidak hanya melihat hasil karya para perajin, tetapi juga ikut terlibat langsung dalam proses membatik bersama para penyintas gangguan jiwa yang tergabung dalam program pemberdayaan tersebut.
Dengan penuh antusias, ia mencoba teknik pewarnaan khas batik ciprat yang menghasilkan motif unik di setiap lembar kain.
Menurut Respati, Batik Ciprat Mas Danu menjadi bukti bahwa penyintas gangguan jiwa memiliki kemampuan untuk berkarya, berkembang, dan menghasilkan produk bernilai ekonomi jika mendapatkan ruang serta pendampingan yang tepat.
“Ini luar biasa. Teman-teman ODGJ membuktikan bahwa mereka mampu berkarya dan menghasilkan produk yang berkualitas. Batik ciprat ini menjadi alternatif yang menarik selain batik tulis maupun batik cap yang selama ini sudah dikenal masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan Batik Ciprat Mas Danu tidak hanya berorientasi pada produksi kerajinan, tetapi juga berperan sebagai sarana pemulihan sosial dan ekonomi bagi para penyintas gangguan jiwa.
Respati juga menyampaikan apresiasi kepada para relawan, pendamping, pekerja sosial, serta seluruh pihak yang selama ini mendukung proses pemberdayaan tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada para relawan, pendamping, pekerja sosial, dan seluruh pihak yang telah membantu saudara-saudara kita sehingga dapat kembali produktif dan berkarya. Ini merupakan contoh nyata pemberdayaan masyarakat dan UMKM yang memberikan manfaat sosial maupun ekonomi,” katanya.
Program Batik Ciprat Mas Danu sendiri merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan di Kelurahan Danukusuman.
Program ini melibatkan penyintas gangguan jiwa yang didampingi relawan dan kader sosial untuk memproduksi batik menggunakan teknik ciprat manual dengan kuas dan percikan warna, sehingga menghasilkan motif yang berbeda pada setiap karya.
Nama Mas Danu merupakan singkatan dari Masyarakat Danukusuman Peduli Jiwa Kesehatan Sosial Luhur dan Inovatif. Melalui program ini, para peserta tidak hanya memperoleh keterampilan membatik, tetapi juga mendapatkan kesempatan membangun kembali kepercayaan diri, memperluas interaksi sosial, dan memperoleh penghasilan dari hasil karya mereka.
“Ini bukan sekadar produk batik. Ini adalah gerakan kemanusiaan. Teman-teman ODGJ diberikan ruang untuk berkarya, memperoleh penghasilan, sekaligus membangun kembali kepercayaan diri mereka. Inilah wajah pemberdayaan masyarakat yang sesungguhnya,” tegas Respati.
Ia menambahkan, keberhasilan Batik Ciprat Mas Danu menunjukkan bahwa setiap warga memiliki peluang yang sama untuk berkontribusi bagi masyarakat apabila memperoleh dukungan yang memadai.
“Yang kita lihat hari ini bukan hanya hasil batiknya, tetapi juga semangat, kreativitas, dan harapan yang tumbuh dari teman-teman. Mereka mampu menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menghasilkan karya yang membanggakan,” imbuhnya.
Melihat potensi yang dimiliki, Pemerintah Kota Surakarta berencana memberikan ruang promosi yang lebih luas bagi Batik Ciprat Mas Danu. Salah satunya dengan mengikutsertakan produk tersebut dalam ajang Suaraga yang akan digelar di Solo pada Juli 2026.
“Kami akan mengajak Batik Ciprat Mas Danu untuk ikut dalam event Suaraga yang akan digelar di Solo bulan Juli mendatang. Ini kesempatan yang baik agar karya teman-teman dapat dipamerkan dalam event berskala nasional sehingga semakin dikenal masyarakat luas,” ujar Respati.
Menurutnya, keikutsertaan dalam ajang tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkenalkan produk UMKM berbasis pemberdayaan sosial asal Kota Surakarta ke tingkat yang lebih luas.
Respati berharap semakin banyak kolaborasi antara pemerintah, komunitas, relawan, dan masyarakat dalam menghadirkan program-program pemberdayaan yang inklusif.
“Pemerintah Kota Surakarta berkomitmen mendukung program-program seperti ini. Selain menggerakkan ekonomi masyarakat, program ini juga membantu menghapus stigma terhadap ODGJ dan membuktikan bahwa mereka mampu hidup produktif, mandiri, dan berkarya,” pungkasnya.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.