Trobosan Water Taxi Bali, Canggu–Bandara Ngurah Rai Dipangkas 30 Menit

Rencana water taxi rute Canggu–Bandara Ngurah Rai diproyeksikan menjadi solusi kemacetan Bali selatan sekaligus mendukung sektor wisata. Namun ahli mengingatkan risiko abrasi, sedimentasi, dan perubahan arus laut jika pembangunan pesisir dilakukan tanpa kajian lingkungan matang

chat_bubble_outline 0
Water Taxi Canggu–Bandara Ngurah Rai Diproyeksikan Jadi Solusi Kemacetan, Ahli Ingatkan Risiko Pesisir Bali (Foto: Iluatrasi/HARIANKOTA)

BADUNG, HARIANKOTA.COM – Kemacetan panjang di jalur menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai selama beberapa tahun terakhir perlahan berubah menjadi persoalan serius bagi industri pariwisata Bali.

Waktu tempuh yang tidak menentu, terutama dari kawasan Canggu dan sekitarnya, membuat pemerintah mulai melirik jalur laut sebagai alternatif transportasi wisata baru melalui proyek water taxi.

Rencana pengoperasian water taxi rute Canggu–Bandara Ngurah Rai itu diklaim mampu memangkas waktu perjalanan menjadi sekitar 30 menit.

Di tengah kemacetan Bali selatan yang semakin padat, proyek tersebut mulai dipandang sebagai solusi transportasi sekaligus peluang baru bagi sektor wisata dan bisnis pariwisata.

Selama beberapa tahun terakhir, Canggu berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan wisata paling cepat di Bali. Vila, hotel, beach club, restoran, hingga ruang kerja kreatif tumbuh mengikuti lonjakan wisatawan domestik maupun mancanegara.

 

Namun pertumbuhan kawasan wisata itu tidak diimbangi kapasitas jalan yang memadai. Akibatnya, akses menuju bandara kerap dipadati kendaraan, terutama saat musim liburan dan jam sibuk penerbangan.

Karena itu, jalur laut mulai dianggap sebagai pilihan realistis untuk mengurangi ketergantungan terhadap transportasi darat.

Selain menawarkan perjalanan yang lebih cepat, layanan water taxi juga dinilai memiliki nilai tambah bagi industri travel karena menghadirkan pengalaman perjalanan laut bagi wisatawan.

Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, sebelumnya menyebut pemerintah berencana membangun sejumlah titik pemberhentian kapal serta pelebaran sempadan pantai hingga 120 meter dari garis laut untuk mendukung proyek tersebut.

Namun di tengah optimisme pengembangan transportasi wisata Bali, sejumlah ahli mengingatkan pemerintah agar tidak terburu-buru merealisasikan proyek tanpa kajian lingkungan yang matang.

Geolog dan Praktisi Manajemen Bencana, Ida Bagus Oka Agastya, menilai pembangunan infrastruktur di pesisir selatan Bali harus mempertimbangkan karakter alami pantai yang dinamis.

“Hal yang perlu diwanti-wanti sebelum proyek ini bergerak lebih jauh adalah kajian data gelombang dan sedimen jangka panjang dari BMKG,” kata Oka, pada wartawan, belum lama ini.

Menurut dia, kawasan pantai dari Tuban hingga Canggu tersusun dari pasir laut dan material vulkanik yang terus bergerak mengikuti arus sejajar pantai atau longshore current.

Jika pembangunan dilakukan menggunakan struktur keras seperti beton atau pemecah ombak tanpa kajian mendalam, dampaknya dapat memicu abrasi di wilayah lain.

“Kalau pelebaran sempadan ini diisi struktur beton baru, kita sedang membangun di atas sistem yang seharusnya dibiarkan bergerak bebas,” ujarnya.

Ia menilai gejala abrasi akibat pembangunan struktur keras sebenarnya sudah mulai terlihat di sejumlah kawasan wisata seperti Kuta dan Seminyak.

Selain pelebaran sempadan pantai, rencana pembangunan breakwater atau pemecah gelombang juga menjadi perhatian.

Menurut Oka, struktur tersebut memang dapat memecah energi gelombang sebelum mencapai area tertentu. Namun di sisi lain, breakwater juga berpotensi memicu sedimentasi dan perubahan arus laut.

“Di sisi yang terlindungi, sedimen cenderung menumpuk dan bisa mendangkalkan perairan. Di sisi luar dan ujung struktur, arus justru mengencang dan menggerus dasar laut,” jelasnya.

Ia menambahkan, karakter gelombang Samudra Hindia yang besar membuat desain breakwater tidak bisa dibuat sembarangan dan harus melalui kajian oseanografi yang detail.

Meski demikian, Oka menilai proyek water taxi tetap memiliki peluang menjadi solusi transportasi Bali selatan jika dirancang secara matang.

“Koridor darat Bandara–Canggu memang salah satu rute paling padat di Bali. Alternatif mobilitas laut bisa relevan, tetapi efektivitas ekonomi dan pasar tetap harus dihitung,” katanya.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya