KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM –Kisah Bripka I Gede Bayu Perdana menjadi gambaran nyata risiko tugas kepolisian. Anggota Polres Karanganyar ini pernah mengalami koma usai kecelakaan saat mengejar pengedar narkoba di Kebumen,
Risiko tugas di lapangan sebagai aparat penegak hukum hampir merenggut nyawanya. Namun pengalaman tersebut justru membentuk keteguhan dirinya sebagai anggota Polri.
Sebelum menjadi anggota Polri, Gede sempat menempuh pendidikan melalui jalur SNMPTN di Program Studi S-1 Sastra Inggris, Fakultas Seni dan Sastra Universitas Sebelas Maret (UNS). Meski demikian, jalan hidup membawanya beralih ke dunia kepolisian.
“Saat itu masih kuliah sambil menunggu tes Polri di tahun 2009. Meski pada saat itu gagal di tahap akhir (pantukhir),” jelas Gede, Selasa (29/4/2026).
Meski begitu, dirinya tak patah semangat dan tetap mempersiapkan diri. Hasilnya di tahun 2010, Bayu lolos seleksi di Polda Jawa Tengah dan terpilih mengikuti program Pendidikan Pembentukan Bintara Penyidik. Ia menjalani pendidikan di Watukosek dan Megamendung, Bogor, sebelum akhirnya bertugas di Satuan Reserse Narkoba Polres Kebumen.
Pengalaman paling berkesan sekaligus menjadi titik balik hidupnya terjadi saat menangani kasus peredaran narkoba di wilayah Gombong, Kebumen. Berbekal informasi masyarakat, Bayu melakukan penyelidikan di kawasan Wero dan menemukan keberadaan terduga pelaku di sebuah kafe.
Aksi pengejaran pun terjadi ketika pelaku mencoba melarikan diri. Dalam upaya menghentikan tersangka yang diduga membawa barang bukti, Gede mengalami kecelakaan saat menyalip truk di jalur Gombong–Karanganyar dan bertabrakan dengan kendaraan dari arah berlawanan.
Insiden tersebut membuatnya dalam kondisi kritis hingga koma selama hampir satu pekan. Peristiwa itu menjadi ujian berat dalam perjalanan pengabdiannya sebagai aparat penegak hukum.
Atas dedikasinya, Gede kemudian dipindahkan ke Polres Karanganyar pada 2017 agar lebih dekat dengan keluarga. Ia sempat berdinas di Polsek Tasikmadu sebelum dipercaya memperkuat fungsi kehumasan di Polres Karanganyar.
Di bidang Humas, kiprahnya berkembang pesat. Ia aktif membangun komunikasi publik serta memanfaatkan media sosial untuk mendekatkan institusi kepolisian dengan masyarakat. Salah satu inisiatifnya adalah menggagas relawan anti-hoaks di Karanganyar.
Keaktifannya itu membawanya terlibat dalam penugasan nasional, yakni Operasi Damai Cartenz 2022 di Papua bersama Divisi Humas Mabes Polri. Ia bertugas di Jayapura hingga wilayah Pegunungan Bintang dan Nduga dalam kegiatan peliputan serta dokumentasi.
Penugasan tersebut berakhir dengan baik, dan Gede bersama timnya menerima penghargaan dari Kapolri berupa pin emas.
Motivasi Gede menjadi polisi tak lepas dari sosok ayahnya, I Nyoman Sumaba, yang juga seorang anggota Polri di Karanganyar. Pesan sang ayah sejak dirinya masih duduk di bangku SMP menjadi pegangan hingga kini.
Di usia 36 tahun dengan pangkat Brigadir Kepala, Gede terus berkomitmen mengabdi. Dengan pengalaman lapangan yang penuh risiko, ia ingin memperkuat peran kepolisian, tidak hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam membangun kepercayaan publik di era digital.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.