SOLO, HARIANKOTA.COM – Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Surakarta menggelar Workshop Peraturan Pertandingan Pencak Silat Nasional 2026 di GOR Tapak Suci, Sumber, Kota Solo, Minggu (25/1/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh wasit, juri, pelatih, serta perwakilan perguruan pencak silat se-Kota Surakarta.
Workshop tersebut bertujuan menyamakan pemahaman aparatur pertandingan terhadap regulasi terbaru yang akan diterapkan pada musim kompetisi 2026, sekaligus mempererat silaturahmi antarperguruan dan perangkat pertandingan.
Ketua IPSI Kota Surakarta, Ito Indrayana Rangga Wangi, mengatakan kegiatan ini menjadi forum penting untuk membedah perubahan aturan pertandingan agar seluruh aparatur memiliki persepsi yang sama.
“Workshop ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum pemahaman dan pembedahan materi peraturan pertandingan yang baru, sehingga seluruh aparatur memiliki persepsi yang sama,” ujar Ito.
Ia menegaskan, workshop sangat krusial mengingat adanya sejumlah pembaruan regulasi. Dengan pemahaman yang sama, diharapkan wasit, juri, dan pelatih dapat menjalankan tugas secara profesional dan sesuai aturan.
“Dengan aturan yang berubah, pemahaman aparatur pertandingan harus diperbarui agar pelaksanaan pertandingan ke depan berjalan sesuai regulasi,” tambahnya.
IPSI Surakarta menargetkan lahirnya aparatur pertandingan yang profesional, memiliki pemahaman terukur, serta mampu mengedepankan keselamatan atlet. Prinsip zero accident menjadi salah satu fokus utama dalam penerapan regulasi terbaru.
“Kami ingin aparatur pertandingan mampu bertugas secara optimal dan mengedepankan prinsip zero accident,” tegas Ito.
Dalam pemaparan materi, Ito menjelaskan salah satu perubahan paling krusial dalam Peraturan Pertandingan Pencak Silat Nasional 2026 adalah pada aturan perolehan poin teknik bantingan.
Beberapa teknik tertentu kini dikategorikan sebagai pelanggaran berat demi mencegah insiden fatal.
“Beberapa teknik bantingan kini dikategorikan sebagai pelanggaran berat agar tidak kembali terjadi insiden yang merenggut korban jiwa,” jelasnya.
Terkait aspek keselamatan atlet, Ito menegaskan regulasi terbaru justru lebih aman dibandingkan aturan sebelumnya. Penilaian pertandingan kini menitikberatkan pada penerapan kaidah silat yang benar.
“Mulai dari sikap pasang, pola langkah, serang-bela, hingga diakhiri sikap pasang wajib diterapkan. Jika kaidah silat tidak dijalankan, poin tidak akan masuk meskipun serangan dilakukan di area sah,” paparnya.
Menurut Ito, penerapan kaidah silat tersebut merupakan ciri khas pencak silat sebagai seni bela diri sekaligus olahraga prestasi, yang membedakannya dari cabang bela diri lainnya.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.