JAKARTA, HARIANKOTA.COM – Harga mobil listrik yang masih tergolong tinggi kerap menjadi penghalang bagi konsumen Indonesia untuk beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil.
Di tengah kondisi tersebut, Polytron mengambil langkah berbeda dengan menawarkan mobil listrik melalui skema sewa baterai, sebuah pendekatan yang jarang ditemui di pasar otomotif nasional.
Lewat skema ini, konsumen dapat membawa pulang mobil listrik Polytron dengan harga mulai Rp 299 juta, tanpa harus membeli baterai di awal.
Bagi konsumen yang menginginkan kepemilikan penuh, Polytron juga menyediakan opsi pembelian unit beserta baterai dengan harga mulai Rp 419 juta.
Pendekatan harga tersebut memberi dampak pada kinerja awal Polytron di pasar mobil listrik. Berdasarkan data penjualan ritel Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sepanjang 2025, Polytron mencatat distribusi 353 unit mobil listrik ke konsumen.
Angka ini menempatkan Polytron di atas sejumlah merek global yang telah lebih dulu beroperasi di Indonesia.
Meski belum berpengaruh besar terhadap total pangsa pasar otomotif nasional, capaian ini menunjukkan adanya ketertarikan konsumen terhadap alternatif kepemilikan mobil listrik yang lebih fleksibel.
Baterai masih menjadi komponen termahal pada mobil listrik. Dengan memisahkan harga baterai dari kendaraan, Polytron berupaya menurunkan hambatan harga awal yang selama ini membatasi adopsi mobil listrik.
Strategi tersebut diterapkan pada dua model andalannya, Polytron G3 dan G3+, yang dirakit secara lokal di fasilitas PT Handal Indonesia Motor (HIM) di Purwakarta, Jawa Barat. Produksi lokal ini turut mendukung efisiensi biaya sekaligus memperkuat posisi produk di pasar domestik.
Mobil listrik Polytron merupakan hasil kolaborasi dengan Skyworth K EV. Dari sisi dimensi, kendaraan ini berada di segmen SUV menengah dengan panjang 4.720 mm, lebar 1.908 mm, tinggi 1.696 mm, serta jarak sumbu roda 2.800 mm.
Untuk menunjang performa, Polytron membekali mobil listriknya dengan baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP) berkapasitas 51,9 kWh.
Motor listriknya menghasilkan tenaga hingga 150 kW dengan torsi maksimum 320 Nm, menawarkan karakter akselerasi instan khas kendaraan listrik.
Penggunaan baterai LFP dikenal memiliki stabilitas termal yang baik dan umur pakai yang relatif panjang, meski memiliki kepadatan energi yang lebih rendah dibandingkan jenis baterai lain.
Skema sewa baterai memberi pilihan baru bagi konsumen yang ingin mencoba mobil listrik tanpa beban biaya besar di awal. Namun, di sisi lain, keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada transparansi biaya sewa, layanan purna jual, serta edukasi konsumen mengenai total biaya kepemilikan dalam jangka panjang.
Masuknya Polytron dengan pendekatan berbeda ini menambah dinamika persaingan pasar mobil listrik nasional.
Di tengah harga yang masih menjadi isu utama, strategi sewa baterai bisa menjadi salah satu pemicu perubahan pola kepemilikan kendaraan listrik di Indonesia.***

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.